"Tahan sedikit, Tuan Andreas. Pelurunya harus segera dikeluarkan," ucap seorang dokter pribadi dengan tangan gemetar, perlahan menjepit proyektil tembaga yang tertanam di betis kanan David Andreas menggunakan pinset medis. :Ssshh..." David hanya mendesis pendek, rahangnya mengetat sempurna tanpa ada teriakan sedikit pun. Matanya yang tajam menatap kosong ke langit-langit bunker yang berdebu, mengabaikan rasa sakit yang membakar di kakinya. Pikirannya justru melayang jauh, kembali pada detik-detik menegangkan saat ia berhadapan langsung dengan penyusup misterius tadi. Mata bulat itu... dan kilat kesedihan yang sempat terpancar di sana sebelum tembakan dilepaskan. Entah mengapa, ada rasa aneh yang mendadak menghimpit dada sang mafia tua, sebuah ikatan batin yang tak kasat mata namun terasa begitu akrab. Namun, egonya menolak untuk menggali lebih dalam. "Gerakan pemuda tadi... terlalu terlatih untuk ukuran mata-mata amatir," gumam David dengan suara baritonnya yang serak, memecah kes
Read more