"Kau benar. Jika mereka melihat kita di sini, penyamaranmu tamat," desis Edward, matanya berkilat tajam sebelum ia melepaskan cengkeramannya. "Cepat, naik ke punggungku. Kita kembali ke kamar rawat sebelum Johnny menemukanku di sini." Marlina tidak membantah. Meski kakinya terasa gemetar, ia segera melingkarkan lengannya di leher Edward, membiarkan pria itu menggendongnya dengan sigap kembali masuk melalui pintu samping rumah sakit. Suasana koridor yang sunyi membuat langkah kaki mereka terdengar sangat berirama, seolah detak jantung keduanya saling memburu satu sama lain. Sesampainya di kamar rawat, Edward segera membaringkan Marlina di ranjang dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia menarik kursi ke samping ranjang, menatap Marlina dengan tatapan yang menuntut jawaban. "Sekarang, tidak ada yang bisa mengganggu kita," ujar Edward, suaranya sarat akan desakan. "Jelaskan padaku, Marlina. Siapa pria tadi? Mengapa dia menatapmu seolah kau adalah bagian dari dunianya? Dan apa maksud dari an
Baca selengkapnya