Edward perlahan membuka matanya. Tidak ada cahaya terang, hanya remang lampu tidur yang menciptakan bayangan panjang di wajahnya. Genggamannya pada pergelangan tangan Marlina tidak mengendur, justru semakin mengunci. "Masih mau pura-pura tidak peduli padaku, Marlina?" tanya Edward dengan suara serak yang membelah keheningan kamar. Marlina mencoba menarik tangannya, namun usahanya sia-sia. "Lepaskan, Edward. Aku hanya melakukan kewajibanku sebagai pengawal. Jangan terlalu percaya diri, aku hanya tidak ingin kau mati konyol sebelum kau sempat membayar gajiku." Edward tertawa hambar, suara itu terdengar getir di telinga Marlina. "Kewajiban, ya? Tapi ingat satu hal. Sampai detik ini, aku masih membencimu, Marlina. Aku membenci setiap helai rambutmu, setiap tatapanmu, dan terutama fakta bahwa kau telah membohongiku selama berbulan-bulan." Marlina memutar bola matanya, meski hatinya terasa nyeri mendengar kata benci itu keluar dari mulut Edward. "Benci? Kau bilang kau membenciku, t
Read more