Taksi yang ditumpangi Fara melaju membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi. Di dalam kabin, Fara meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Air mata terus menetes membasahi pipinya, sementara dadanya terasa sempit, dihimpit kepanikan yang teramat sangat. Pikiran buruk menari-nari liar di kepalanya, "Bagaimana kalau Suaminya terluka parah? Bagaimana kalau kecelakaan itu mengambil suaminya sebelum kata maaf sempat terucap? " "Pak, tolong agak cepat ya, Pak..." bisik Fara dengan suara bergetar parah, mengelus perutnya yang membuncit lima bulan. Bayi di dalam kandungannya seolah merasakan kepanikan sang ibu, memberikan gerak-gerak kecil yang makin membuat Fara diliputi rasa bersalah. "Tuhan, tolong lindungi Mas Sean... Aku janji tidak akan memarahinya lagi, aku janji kami akan pulang ke rumah lama kita, asal Mas Sean selamat..." doa Fara bertubi-tubi di dalam hatinya. Begitu taksi berhenti di depan IGD rumah sakit rujukan tempat korban kecelakaan dievakuasi, Fara langsu
Read more