LOGINSinar matahari sore di pelataran Candi Borobudur perlahan membias menjadi warna keemasan yang hangat. Setelah puas menikmati kemegahan candi dan membiarkan Sefan puas berlarian di area taman, Sean memboyong keluarga kecilnya menuju sebuah resor bernuansa tradisional Jawa di daerah Cangkringan, Sleman, yang baru saja ia pesan beberapa hari yang lalu. Suasana resor begitu tenang, suara gemercik air kolam dan dedaunan pohon kelapa yang bertiup angin malam menyambut kedatangan mereka. Bangunan berbentuk rumah Joglo kayu jati utuh itu menyuguhkan kehangatan yang sangat berbeda dibanding hiruk-pikuk Jakarta. "Wah, Papa! Rumahnya dari kayu!" seru Sefan heboh saat melangkah masuk ke dalam villa utama. Balita itu langsung berlari mengelilingi ruangan, takjub melihat ukiran-ukiran khas Jawa di setiap tiang. "Iya, ini namanya Rumah Joglo, Jagoan," sahut Sean seraya menggendong Sefan dan mendudukkannya di atas kasur kayu berukir yang megah. "Orang Jawa zaman dulu buat rumah dari kayu jati
Terapi pemulihan kaki kanan Sean yang dijalani secara rutin selama beberapa bulan terakhir akhirnya membuahkan hasil manis. Berkat kedisiplinan dan semangat tingginya demi keluarga, pria itu kini telah sepenuhnya pulih. Langkah kakinya kembali tegap, mantap, dan normal tanpa menyisakan rasa ngilu atau pincang sedikit pun. Pagi itu, suasana kediaman utama Sean dan Fara tampak jauh lebih sibuk dari biasanya. Beberapa koper berukuran sedang sudah tertata rapi di dekat pintu utama. Hari ini, Sean berencana membawa istri dan putranya menikmati liburan spesial sebagai bentuk perayaan atas pulihnya kaki kanannya sekaligus memberikan waktu istirahat bagi Fara yang kini kehamilannya sudah memasuki usia akhir tujuh bulan. Yogyakarta menjadi destinasi pilihan Sean. Kota gudeg, kota candi, kota pendidikan, dan pusat kebudayaan Jawa itu dipilih bukan tanpa alasan. Sean ingin mengenalkan putra sulungnya, Sefan, pada kekayaan serta keanekaragaman budaya bangsa sejak dini. Agar Sefan tidak s
Waktu berlalu seperti aliran air yang tenang, mengikis sisa-sisa trauma dan meninggalkan jejak-jejak kebahagiaan baru di rumah utama Fara dan Sean. Dua bulan sejak kepulangan mereka ke rumah ini, dinamika kehidupan Sean dan Fara kini jauh berbeda. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi kecanggungan, dan yang terpenting– tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Pagi itu, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui jendela besar kamar utama. Sean sedang duduk di tepi ranjang, perlahan-lahan menggerakkan pergelangan kaki kanannya. Sesi terapi berjalan sangat baik. Gips dan penopang kakinya sudah dilepas sejak seminggu lalu, menyisakan latihan pemulihan mandiri agar engsel kakinya kembali fleksibel. "Mas, jangan dipaksa kalau masih terasa ngilu," tegur Fara lembut yang baru saja melangkah keluar dari walk-in closet. Kandungan Fara kini sudah memasuki usia tujuh bulan, membuat perutnya kian membuncit sempurna. Anggun dan matang, penampilan Fara selalu berhasil membuat Sean terpan
Irama mesin mobil terdengar tenang membelah jalanan sore Jakarta. Di dalam kabin, suasana begitu hangat dan menentramkan. Fara duduk di kursi samping pengemudi, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Sefan— putra kecil mereka duduk nyaman di car seet-nya. Di samping Fara, Sean duduk dengan posisi kaki kanan yang sedikit diluruskan. Kecelakaan kemarin memang tidak merenggut nyawanya dan sebagian besar lukanya hanyalah lecet biasa, namun benturan keras pada pedal mobil sempat membuat pergelangan kaki kanannya terkilir cukup parah. Dokter menyarankannya untuk menjalani terapi pemulihan selama beberapa minggu ke depan. Meski begitu, raut wajah Sean tampak begitu lega. Hari ini, ia akhirnya bisa membawa istri dan anaknya kembali ke rumah utama mereka.Setelah menempuh perjalanan yang tak lagi terasa jauh, mobil akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah megah berarsitektur modern tersebut. Rumah yang sempat sunyi dan kosong selama hampir dua bulan akibat badai besar dalam rumah t
Taksi yang ditumpangi Fara melaju membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi. Di dalam kabin, Fara meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Air mata terus menetes membasahi pipinya, sementara dadanya terasa sempit, dihimpit kepanikan yang teramat sangat. Pikiran buruk menari-nari liar di kepalanya, "Bagaimana kalau Suaminya terluka parah? Bagaimana kalau kecelakaan itu mengambil suaminya sebelum kata maaf sempat terucap? " "Pak, tolong agak cepat ya, Pak..." bisik Fara dengan suara bergetar parah, mengelus perutnya yang membuncit lima bulan. Bayi di dalam kandungannya seolah merasakan kepanikan sang ibu, memberikan gerak-gerak kecil yang makin membuat Fara diliputi rasa bersalah. "Tuhan, tolong lindungi Mas Sean... Aku janji tidak akan memarahinya lagi, aku janji kami akan pulang ke rumah lama kita, asal Mas Sean selamat..." doa Fara bertubi-tubi di dalam hatinya. Begitu taksi berhenti di depan IGD rumah sakit rujukan tempat korban kecelakaan dievakuasi, Fara langsu
Satu minggu sudah Sean menetap di rumah Fara di kawasan Jakarta Selatan. Tinggal di rumah yang tergolong lebih mungil dibanding hunian asli mereka yang megah dan berhalaman luas ternyata perlahan membuat Sean uring-uringan sendiri. Pria itu berulang kali membujuk dan mengajak istrinya untuk memboyong Stefan serta memboyong barang-barang mereka pulang ke rumah lama. Namun, Fara masih bersikeras menolak. Fara merasa sudah sangat nyaman dengan ketenangan rumah ini, dekat dengan toko bunganya, dan jujur saja, hatinya masih menikmati posisi di mana Sean harus 'berjuang ekstra' untuk keluarganya.Pagi itu, perdebatan kecil kembali pecah di ruang tengah."Sayang, sampai kapan kita mau begini? Rumah kita yang sana kosong, kasihan kalau ditinggal terus," bujuk Sean sambil merapikan kemejanya. "Di sini kamarnya juga sempit buat kita bertiga, apalagi sebentar lagi ada adik bayi."Fara yang sedang mengancingkan baju Sefan hanya melirik dingin. "Kalau Mas Sean merasa kesempitan dan nggak betah d
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten







