Satu bulan berlalu sejak percakapan mendalam antara Fara dan Giselle di kafe daerah Dharmawangsa hari itu. Kehidupan Fara bergulir dalam ritme baru yang jauh lebih tenang, meski ada ruang hampa yang diam-diam kian membesar di sudut dadanya. Setiap pagi, Fara terbangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan, merapikan seragam Sefan, dan mengantar putra kecilnya pergi ke sekolah taman kanak-kanak yang terletak tak jauh dari apartemen barunya. Siang harinya, dengan setia ia kembali berdiri di depan gerbang sekolah untuk menjemput sang buah hati dengan senyum hangat. Hidupnya terasa jauh lebih waras selama satu bulan terakhir. Tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi rasa curiga yang menggerogoti pikiran. Namun, di balik ketenangan itu, ada kehampaan yang tak bisa ia pungkiri. Asal kalian tahu, selama satu bulan penuh ini, Sean sama sekali belum datang menghampirinya. Mama Sarah dan Papa Narendra memang sering menelepon, menanyakan kabar Sefan dan kondisi kandungannya yang kini
Read more