Malam itu, jalanan ibu kota Jakarta dipenuhi lautan kendaraan. Lampu merah, lampu rem, dan deretan klakson yang bersahutan menciptakan pemandangan khas jam pulang kerja. Pukul tujuh malam memang menjadi puncak kemacetan, terlebih banyak pekerja yang baru saja menyelesaikan lembur mereka.Di tengah kemacetan itu, sebuah Rolls-Royce hitam melaju perlahan membelah jalan. Sean menggenggam erat celana satin yang ia kenakan. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya lurus menembus kaca depan. "Bodoh sekali kamu, Sean!" umpatan pelan keluar dari bibirnya.Sejak menerima telepon dari Mama Sarah tiga puluh menit yang lalu, pikirannya sudah tidak tenang.*"Sean, Fara kram perut lagi." *Kalimat sederhana itu berhasil membuat jantungnya terasa diremas. Sean memukul pelan kaca mobil tepat di samping kirinya. Ia benar-benar merasa bodoh karena terlalu fokus menginterogasi Bella, terlalu larut dalam amarah dan dendamnya, sampai-sampai ia melupakan satu orang yang seharusnya menjadi prioritas utama
Last Updated : 2026-06-03 Read more