LOGINPintu kamar tamu akhirnya terbuka setelah hampir empat puluh lima menit Mama Sarah menyemburkan nasehat panjang lebar mengenai etika hingga pentingnya rasa kemanusiaan seorang suami terhadap istrinya. Sean keluar lebih dulu dengan rambut yang masih agak acak-acakan dan kaos oblong hitam yang baru sempat ia sambar. Wajahnya menekur dalam, sudut bibirnya tertekuk ke bawah persis anak kecil yang baru saja disita mainannya. Di belakangnya, Mama Sarah berjalan dengan langkah mantap, dagu terangkat, dan sepasang mata tajam yang siap mengawasi setiap gerak-gerik putra sulungnya. Keputusan Mama Sarah sudah bulat, ia tidak akan pulang malam ini. Ia memilih memantau langsung rumah ini demi memastikan Sean tidak melakukan aksinya lagi. *"Diberi kesempatan menitipkan anaknya sebentar untuk menjalankan misi negara, malah menghajar istrinya habis-habisan di atas ranjang. Kurang ajar memang!"* maki Mama Sarah berulang kali di dalam hatinya, merasa gemas pada kelakuan anak lelakinya yang tida
Langit sore di kawasan perumahan elit itu sudah menyiramkan warna jingga keemasan saat mobil Alphard hitam milik keluarga Narendra berhenti mulus di depan gerbang kayu berukir. Pak Jojo, supir pribadi kepercayaan keluarga Narendra, bergegas turun terlebih dahulu dari kemudi untuk membukakan pintu penumpang. Mama Sarah turun, merapikan blus sutranya sebelum berbalik menuntun cucu kesayangannya. Sefan, bocah kecil berambut ikal itu, meloncat girang. Sepanjang jalan dari rumah utama Narendra, anak itu terus merengek menolak menginap lagi karena merindukan Mamanya. "Sepi banget kayana ini rumah, ya kan Pak Jo?" gumam Mama Sarah sambil mengamati halaman depan yang hening. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan lampu teras pun belum menyala. "Mungkin Mbak di rumah sedang izin atau sudah pulang duluan, Bu," sahut Pak Jojo sopan. Mama Sarah mengangguk pelan, ia memang paham betul kebiasaan anak mantunya. Sean kerap meliburkan art mereka jika menginginkan privasi penuh di rumah.
Mentari pagi telah sepenuhnya terbit, menyisakan bias temaram yang merayap di balik tirai kamar. Udara terasa kian pekat dan hangat, seolah menyimpan sisa-sisa bara dari pergulatan intens yang baru saja Fara dan Sean lalui beberapa jam lalu. Walaupun wanita itu baru tidur seperkian jam, karena suaminya Semalam menggarapnya sampai hampir jam 03.00 pagi. Namun, Fara membuka mata perlahan. nalurinya sebagai Ibu rumah tangganya membawa wanita itu bangun di jam yang sama setiap paginya. Fara menyadari tubuhnya terkunci dalam dekap erat Sean dari belakang. Pria itu bernapas teratur, dadanya yang bidang dan polos tanpa sehelai benang pun naik-turun menempel di punggung Fara, basah oleh peluh yang belum sepenuhnya mengering. Fara masih mengenakan daster tidur, meski kain tipis itu kehilangan fungsinya karena seluruh dalamannya telah dilucuti habis oleh keliaran Sean malam tadi. "Mas, bangun dulu," bisik Fara seraya menepuk pelan lengan kekar Sean yang melingkar posesif di atas perutnya.
Deru mesin SUV hitam milik Sean memecah keheningan malam kota, melaju stabil membelah jalanan yang mulai lengang. Di dalam kabin, atmosfer terasa begitu kontras dengan ketenangan di luar. Fara duduk menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, sementara jemarinya masih merasakan sisa kehangatan dari genggaman sang suami. Drama yang sedikit memalukan di kediaman orang tua Sean, di mana Mama Sarah dan Papa Narendra dengan blak-blakan mengusir mereka demi "misi negara" masih menyisakan rona merah pekat di kedua pipi Fara. Rasa malunya bahkan belum sepenuhnya menguap saat mobil akhirnya memasuki pelataran rumah mereka sendiri. Begitu mesin dimatikan dan pintu utama terbuka, keheningan langsung menyambut. Rumah terasa begitu lengang tanpa kehadiran Sefan yang biasanya menyambut mereka dengan berlari membawa mainan, nuansa sunyi itu justru mendadak mengubah atmosfer di dalam rumah menjadi jauh lebih intim dan privat. Sean tidak langsung membiarkan Fara bernapas lega. Begitu pintu utama
Udara malam kota perlahan memeluk mobil SUV yang dikemudikan oleh Sean dengan kecepatan sedang. Di kursi belakang, Sefen— putra kecil mereka yang berusia tiga tahun itu sudah terlelap pulas setelah lelah menikmati hidangan penutup di restoran tempat mereka dinner tadi.Fara yang duduk di samping Sean sesekali melirik sang suami, pipinya masih merona merah akibat ucapan pria itu sebelum meninggalkan restoran tadi. Bayangan tentang "misi penting" yang dimaksud Sean membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.Tak butuh waktu lama, mobil mewah itu memasuki gerbang otomatis kediaman keluarga Narendra. Rumah bergaya klasik modern tersebut tampak hangat dengan lampu-lampu taman yang menyala temaram. Begitu mobil berhenti di halaman, pintu utama langsung terbuka. Mama Sarah dan Papa Narendra menyambut kedatangan mereka dengan senyuman lebar. "Tumben malam-malam kesini?" tanya Papa Narendra penasaran, begitu Sean menggendong Sefen keluar dari mobil. "Shttt... Urusan anak muda
Restoran rooftop berkonsep terbuka itu menawarkan pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian lantai dua puluh lima. Angin malam berhembus lembut, membawa serta alunan musik jazz instrumental yang diputar dengan volume pas, menciptakan atmosfer yang romantis sekaligus hangat bagi siapa saja yang datang berkunjung. Di salah satu meja sudut yang menghadap langsung ke arah lanskap kota, Sean Narendra sudah menyiapkan tempat duduk privat untuk eluarga kecilnya. "Papa ganteng banget, iya kan Ma?" seru Sefan riang, mulut anak kecil itu entah meniru siapa, bisa se-Jayus itu. Sambil terawa, Sean mengecup pipi gembil Sefan berkali-kali. "Jagoan Papa, hari ini ganteng juga, kayak aktor Korea," puji Sean sambil merapikan kerah kemeja anaknya. "Sefan memang ganteng dari lahir, Pa. Kata Mama mirip Papa," jawab bocah tiga tahun itu dengan nada percaya diri tinggi, sukses membuat Fara yang duduk di sebelah mereka menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum geli. Fara duduk dengan angg
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten







