Sejak pagi, Tamara sudah disibukkan dengan jadwal operasi. Dia harus siap sebagai asisten, harinya begitu padat. Siang ini, dia baru bertemu dengan Cheris.Dia ingin menenggelamkan diri di dasar lautan rasanya, minuman kaleng yang memabukkan itu benar-benar petaka baginya. " Tamara? " seru Cheris yang melambaikan tangannya di depan wajah Tamara, membuat dia tersadar. " Emh, soal kemarin... " Ragu dia ingin berbicara, bibirnya terasa kelu. Bahkan, untuk sekedar menatap Cheris dia tidak berani. " Aku tidak memaksa, jika kau tidak mau cerita. " sambung Cheris, sedikit membuat hatinya lega.Namun, tetap saja. Dia harus bicara yang sebenarnya agar tidak dianggap wanita sembarangan. " Maaf, dia memang suamiku. Tapi, jangan beritahu siapapun. " ucap Tamara pada akhirnya yang mengakui, dengan cepat dia meminta temannya merahasiakan.Tangan Cheris terangkat menutupi mulutnya yang terbuka, menatap tak percaya pada teman disampingnya. " Sungguh? Kau sudah menikah? " bisik Cheris, ekspresinya
Read more