ログイン"Maaf..." Suara perempuan itu kembali terdengar. "...aku terlambat pulang."Arunika tidak bergerak. Matanya terpaku pada wajah wanita di ambang pintu. Wajah yang terasa asing, namun juga begitu akrab — seolah ada bagian dari dirinya yang mengenal perempuan itu jauh sebelum pikirannya mampu mengingat."Siapa kau?" Suara Arunika bergetar.Wanita itu menelan ludah. "Namaku Liora."Arunika mengerutkan kening. "Liora?""Nama yang kupakai selama bertahun-tahun." Perempuan itu melangkah masuk. "Tapi nama yang diberikan kepadaku ketika aku lahir adalah..." Ia berhenti, matanya mulai berkaca-kaca. "...Alyana."Arunika membeku.Viktor langsung menatap wanita itu dengan waspada. "Kau ibu Arunika?"Alyana mengangguk. "Ya."Arunika tertawa kecil, namun air matanya justru jatuh. "Mustahil. Ayah bilang kau sudah meninggal.""Aku tahu.""Semua orang bilang begitu.""Aku tahu.""Kalau begitu kenapa?"Alyana menundukkan kepala. "Karena kalau aku tetap hidup sebagai Alyana, mereka akan menemukanmu."Aru
"Viktor."Suara Arunika terdengar dari lantai bawah. "Viktor, turun sebentar."Viktor yang baru keluar dari kamar mandi menghentikan langkahnya. "Ada apa?""Ada seseorang datang."Nada suara Arunika membuatnya langsung waspada. Ia turun dengan cepat. Namun ketika sampai di ruang tengah, ia tidak menemukan siapa pun selain Larry yang berdiri di dekat meja. Di atas meja terdapat sebuah amplop berwarna cokelat tua.Viktor menatapnya. "Siapa yang mengantarnya?""Kurir biasa, Tuan.""Dia sudah pergi?"Viktor mendekati meja. Arunika berdiri di sampingnya."Aku belum membukanya."Viktor memperhatikan amplop itu. Tidak ada nama pengirim. Hanya dua nama di bagian depan, Viktor Megantara & Arunika.Jantung Arunika berdegup sedikit lebih cepat. "Kenapa aku merasa ini bukan surat biasa?""Karena biasanya firasatmu benar."Viktor mengambil amplop itu. Namun sebelum membukanya, Arunika memegang tangannya."Tunggu."Viktor menoleh. "Apa?""Kalau ini berkaitan dengan semua yang sudah selesai..." Arun
"Viktor.""Hm?""Aku bosan."Viktor yang sedang membaca dokumen di sofa mengangkat wajahnya. Arunika berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan pakaian rumah sederhana dengan rambut tergerai di bahunya."Bosan?""Iya.""Baru juga sepuluh menit.""Justru itu."Viktor menatap jam di pergelangan tangannya, kemudian kembali menatap istrinya. "Jadi kau ingin melakukan apa?"Arunika berpikir sebentar. "Aku ingin keluar.""Ke mana?""Mana saja."Viktor menutup dokumennya. "Baik."Arunika mengerjapkan mata. "Serius?""Serius.""Tanpa Larry?"Viktor menggeleng. "Tanpa Larry.""Tanpa Dimas?""Tanpa Dimas.""Tanpa lima orang penjaga yang selalu mengikuti kita?"Viktor tersenyum. "Tanpa mereka."Arunika langsung tersenyum lebar. "Akhirnya."Viktor berdiri. Namun baru beberapa langkah, Arunika sudah lebih dulu meraih tangannya."Jangan berubah pikiran.""Aku tidak akan.""Janji?""Janji."Mereka pergi hanya berdua. Tidak ada pengawalan yang mencolok. Tidak ada mobil konvoi. Untuk pertama kalinya
“Untuk Arunika — dari ibumu yang melahirkanmu.”Kalimat itu seakan membekukan waktu di hadapan Arunika. Di sekelilingnya, suara teriakan, langkah kaki yang berlarian, dan sisa gemuruh ledakan masih terdengar. Asap tebal memenuhi halaman kediaman Viktor. Namun bagi Arunika, semuanya perlahan memudar hingga lenyap. Yang tersisa hanyalah tulisan itu, dan satu kata yang kini menggema di kepalanya: Ibuku.Viktor segera mengambil amplop itu dari tanah. "Jangan dibuka di sini. Tempat ini belum aman."Arunika menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku ingin tahu sekarang."Viktor menatap lekat ke dalam mata istrinya. Perlahan, ia menyerahkan amplop itu. "Baik."Dengan tangan gemetar, Arunika membuka lipatan kertas tua itu. Hanya selembar surat tertulis di sana. Tulisan tangannya halus, namun terlihat telah ditulis bertahun-tahun silam.“Arunika, jika surat ini sampai kepadamu, berarti mereka telah menemukanmu. Jangan pernah percaya siapa pun yang mengatakan bahwa kau dilahirkan untuk menjadi s
"Jangan pergi ke mana pun sendirian." Arunika menatapnya lekat beberapa detik. "Kau serius?" "Sangat." "Setelah semua yang terjadi malam ini, kau baru menyadari bahwa aku bukan perempuan yang suka dikurung?" "Aku tidak mengurungmu." "Kalau begitu jangan bicara seolah kau sedang melakukannya." Viktor menghela napas panjang. "Aru, dengarkan aku." "Aku mendengarkan." "Nama lengkapmu tercatat dalam daftar sasaran mereka." Arunika terdiam seketika. "Sejak kapan?" "Itu belum kami ketahui." "Siapa yang menempatkannya di sana?" "Itulah yang sedang kami cari." Arunika menatap keluar jendela yang gelap. "Kalau mereka sudah mengincarku sejak lama..." Ia perlahan menoleh ke arah Viktor, "...berarti kematian ayahku bukan kebetulan." Viktor tidak menjawab. Keheningannya sudah cukup menjadi jawaban. "Ayahku dibunuh karena aku?" "Belum tentu." "Tapi kau juga tidak bisa menyangkal kemungkinan itu." Rahang Viktor mengeras. "Tidak," akunya pelan. Arunika tertawa keci
"Bereskan semuanya." Suara Viktor terdengar dingin dan tegas melalui telepon. Dimas di seberang sana seketika terdiam. "Semuanya, Tuan?" "Ya." Viktor menatap lurus ke depan melalui kaca jendela mobil. Tatapannya gelap dan berat, sementara satu tangannya tetap erat menggenggam tangan Arunika di sampingnya. "Periksa seluruh jaringan lama. Bongkar setiap nama yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang." "Bagaimana dengan Phoenix?" "Jangan sentuh mereka dulu." Dimas tampak terkejut. "Tapi, Tuan—" "Aku bilang jangan." Viktor memutus sambungan tanpa menunggu jawaban. Ponselnya diletakkan perlahan ke samping. Arunika yang sejak tadi memperhatikannya dengan gelisah akhirnya bersuara. "Viktor... siapa yang kau hubungi?" Viktor menoleh perlahan. Jemarinya bergerak, mengusap lembut punggung tangan Arunika dengan ibu jarinya. "Aru..." "Jangan bilang semuanya baik-baik saja." Tatapan Arunika menajam. "Aku sudah cukup sering mendengar kalimat itu." Viktor menghela nap
Ruangan itu masih dipenuhi bau mesiu.Asap tipis dari moncong pistol Bisma perlahan memudar di udara dingin kamar, bercampur dengan aroma hujan yang masuk dari jendela setengah terbuka. Lampu kuning redup di langit-langit berkedip pelan, menciptakan bayangan panjang di wajah ketiga orang di ruangan
Keheningan menekan setelah pintu tertutup. Arunika meringkuk di atas ranjang, jubah mandi tebal itu tak mampu menghalau dingin yang merayap dari dalam dirinya. Bukan lagi tentang pengkhianatan Reyhan, tapi tentang keruntuhan ilusi yang ia bangun sendiri. Selama ini aku salah. Pagi datang membawa
Arunika membuka pintu kamar mandi dengan tangan yang sedingin es. Tepat di detik terakhir, ia melangkah keluar. Tubuhnya kaku, lingerie hitam tipis itu mengekspos hampir seluruh kulitnya, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan cara yang membuatnya merasa telanjang bulat di bawah lampu villa yang terang
“Tidak…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Namun ruangan itu terlalu sunyi. Bahkan bisikan sekecil itu sampai ke telinga Bisma. Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum getir yang penuh kendali, seolah ia sudah tahu akhir dari perlawanan ini jauh sebelum dimulai. Di ma







