Siera membeku di balik pintu. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Ia tidak berani mengganggu dan tidak berani masuk. Yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri diam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir lelaki yang, menurut semua orang, bahkan tidak tahu bagaimana caranya bersedih.Dior menatap kedua telapak tangannya sendiri cukup lama."Ayah..." suaranya terdengar lirih, nyaris seperti bisikan kepada dirinya sendiri. "Ini bukan mimpi."Ia membuka dan menutup jemarinya perlahan, seolah sedang memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui."Aku masih bisa melihat kedua tangan ini. Ini benar-benar nyata."Mata Siera semakin memanas. Ia mengatupkan bibirnya kuat-kuat, tetapi air mata tetap mengalir tanpa bisa dihentikan. Dior kembali mendongakkan kepala, memandang langit-langit aula yang begitu tinggi."Rasanya..." Ia berhenti cukup lama sebelum melanjutkan. "Pasti akan sangat aneh tidak melihat Ayah lagi."Kalimat itu sederhana, tidak ada isakan dan tidak ada suar
Read more