Siera tidak membantah. Ia hanya menganggukkan kepala pelan, meski jauh di dalam hatinya ia sama sekali tidak mempercayai jawaban itu.Tanpa berkata apa-apa lagi, Dregory berbalik meninggalkan kamar. Langkahnya tetap tenang seperti biasa, seolah tidak terjadi apa pun. Namun entah mengapa, Siera tanpa sadar mengikutinya dari belakang.Dregory memasuki kamar pribadinya dan menutup pintu, tetapi tidak sampai rapat. Dari celah pintu itu, Siera melihat ayahnya berjalan perlahan menuju kursi, lalu duduk. Kepalanya tertunduk, sementara ruangan dipenuhi keheningan yang begitu menyakitkan.Ia tidak mendengar isakan ataupun tangisan. Hanya kesunyian. Namun dari bahu Dregory yang sedikit merunduk dan sesekali bergetar pelan, Siera mengerti.Ayahnya sedang menangis.Bukan sebagai Duke Elvorn yang ditakuti seluruh kekaisaran, melainkan sebagai seorang pria yang baru saja kehilangan sahabat yang telah menemaninya sejak muda. Tenggorokan Siera terasa sesak. Selama ini Dregory selalu tampak tegar, seo
Read more