"...Aku benar-benar terlambat."Suara Nerion begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh deburan ombak.Maris tak memahami maksud dari ucapan Nerion itu."Terlambat?" ulangnya. "Terlambat untuk apa?" tanyanya. Nerion mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah yang begitu dalam hingga Maris tanpa sadar turun dari batu tempatnya duduk dan sedikit mendekat ke arah Nerion. "Maaf,” ucap Nerion. Maris semakin kebingungan dengan permintaan maaf itu. Ia benar-benar tak mengingat apapun tentang Nerion. "Apa...""...kita pernah saling mengenal?"Nerion menunduk, ia tak berani menatap mata Maris secara langsung."Ya,” jawabnya. "Namun… kau sudah tidak mengingatnya lagi,” lanjutnya. Maris mencoba mencerna jawaban yang diberikan Nerion itu. Meskipun begitu, ia tetap gagal memahaminya, “aku tidak mengerti."Nerion masih menundukkan kepalanya, “memang seharusnya begitu.""Aku datang...""...terlalu lambat."Maris memiringkan kepalanya sambil menyipitkan matanya.“Apa kau bi
Read more