Share

BAB 149

Penulis: Riichan
last update Tanggal publikasi: 2026-07-15 19:38:16

"Makhluk… buangan?" ulang Maris

Nerion mengangguk pelan, “makhluk buangan adalah sebutan untuk anak laut yang telah dilepaskan oleh laut."

"Bukan karena laut membencinya. Dan bukan pula karena laut menghukumnya."

"Melainkan karena keseimbangan yang telah ada sejak dahulu."

Maris tetap diam mendengarkan.

"Laut tidak lagi mengenalmu,” lanjut Nerion.

"Karena itu... ingatanmu tentang laut, tentang rumahmu, tentang semua yang pernah menjadi bagian hidupmu di laut perlahan menghilang."

Nerion berhe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 153

    “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Robert.Lycander menghentikan langkahnya. Ia memandang Robert beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas panjang.Angin sore berhembus pelan di antara pepohonan. Kabut Teluk Mati masih tampak samar di kejauhan."..."Untuk beberapa saat, tak satu pun dari mereka berbicara. Robert memperhatikan wajah Lycander dengan saksama. Mata emas itu masih memerah. Bekas air mata belum sepenuhnya mengering."Aku belum pernah melihatmu seperti ini," ucap Robert pelan.Lycander tersenyum hambar."Aku juga berharap tidak pernah mengalaminya."Robert mengerutkan dahinya."Lalu?"Lycander menoleh ke arah Teluk Mati."Maris...""...telah menjadi makhluk buangan."Kalimat itu membuat Robert membeku. Tatapannya perlahan beralih menuju teluk yang diselimuti kabut."...jadi itu sebabnya tadi kau keluar dari sana."Lycander mengangkat alis, "apa kau tahu tentang makhluk buangan?"Robert mengangguk pelan."Hanya sedikit. Mereka adalah anak laut yang telah dilepaskan ole

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 152

    Langit mulai berubah jingga ketika Lycander dan Maris meninggalkan pantai tempat mereka biasa bertemu. Lycander berjalan mengikuti garis pantai, sementara Maris berenang perlahan tidak jauh dari tepian. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, mereka berjalan menuju tempat yang belum pernah mereka datangi bersama.Deburan ombak menjadi irama yang menemani langkah mereka. Tidak ada lagi tangisan ataupun permintaan maaf. Hanya keheningan yang terasa jauh lebih nyaman daripada sebelumnya."Capek juga ya menjadi manusia," celetuk Maris tiba-tiba.Lycander menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya."Kenapa tiba-tiba bilang begitu?"Maris tersenyum kecil, “kau sudah berjalan sejauh ini. Sedangkan aku cukup berenang saja.”Lycander terkekeh pelan, “kalau aku punya ekor sepertimu, mungkin aku juga memilih berenang."Maris ikut tertawa kecil, “tapi kalau begitu... kau tidak akan bisa berubah menjadi serigala.""Itu juga benar,” ucap Lycander setuju.Keheningan kembali menyelimuti mereka. Kali

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 151

    "Kalau suatu hari nanti dunia ini berhenti menjadi rumahmu… biarlah aku yang menjadi tempatmu pulang,” ucap Lycander. Maris terdiam cukup lama. Bukan karena terharu berlebihan, tetapi karena benar-benar mencerna ucapan itu.Lalu ia berkata pelan, “aku tidak begitu mengerti semua yang kau katakan… tapi aku senang kau masih mau berada di sampingku."Kalimat sederhana itu sudah cukup membuat Lycander kembali hampir mengeluarkan air mata.Maris memandang Lycander cukup lama. Tatapan pria itu masih dipenuhi kesedihan yang belum sepenuhnya hilang."Aku masih membuatmu khawatir ya?" tanyanya pelan.Lycander menggeleng."Bukan. Lebih tepatnya... aku terlambat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."Maris tersenyum tipis."Semua sudah berlalu. Dan aku masih di sini."Lycander menundukkan kepala sebentar."Ya. Syukurlah..."Untuk sesaat, tak ada lagi yang berbicara. Deburan ombak bergantian menyapu pasir di antara mereka. Maris memandang laut yang membentang luas.Angin sore meniup rambut hit

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 150

    Maris memandangnya dengan bingung. Lalu berkata sangat pelan, "hari ini… kenapa aku terus mendengar banyak permintaan maaf padaku?"Ia menatap Lycander. "Apa… yang membuatmu juga mengatakan maaf, Lycander?”Lycander masih berlutut di atas pasir. Napasnya bergetar. Air mata terus jatuh tanpa mampu ia hentikan.Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata hitam Maris yang masih sama seperti dulu.Namun… tatapan itu tidak lagi menyimpan laut, rumah ataupun dunia tempat Maris berasal.Maris memperhatikannya cukup lama. Lalu ia bertanya pelan."Apa… kau tadi mendengar pembicaraanku dengan duyung tadi?"Lycander terdiam. Ia tak mampu berbohong. Perlahan ia menganggukkan kepala.Maris menghela napas kecil, “kalau begitu… kau sudah tahu semuanya."Keheningan kembali menyelimuti pantai. Deburan ombak terdengar begitu pelan. Maris memandang laut yang terbentang luas di hadapannya."Aneh ya…”“Sekarang saat aku melihat laut… rasanya seper

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 149

    "Makhluk… buangan?" ulang Maris Nerion mengangguk pelan, “makhluk buangan adalah sebutan untuk anak laut yang telah dilepaskan oleh laut.""Bukan karena laut membencinya. Dan bukan pula karena laut menghukumnya.""Melainkan karena keseimbangan yang telah ada sejak dahulu."Maris tetap diam mendengarkan."Laut tidak lagi mengenalmu,” lanjut Nerion. "Karena itu... ingatanmu tentang laut, tentang rumahmu, tentang semua yang pernah menjadi bagian hidupmu di laut perlahan menghilang."Nerion berhenti sejenak. Suaranya semakin pelan."Dan… ingatan mereka tentangmu juga akan menyusul."Maris perlahan menoleh ke arah lautan. Hamparan biru itu terasa begitu luas dan asing."Kalau begitu… semuanya memang benar."Ia menyentuh dadanya sendiri, “sejak tadi aku terus merasa… laut terasa begitu asing.""Jadi...""Itu sebabnya… aku tidak mengingat apa pun."Nerion tidak sanggup menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala. Maris memandang kedua tangannya sendiri.Sesaat kemudian ia mengangkat wajahnya k

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 148

    "...Aku benar-benar terlambat."Suara Nerion begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh deburan ombak.Maris tak memahami maksud dari ucapan Nerion itu."Terlambat?" ulangnya. "Terlambat untuk apa?" tanyanya. Nerion mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah yang begitu dalam hingga Maris tanpa sadar turun dari batu tempatnya duduk dan sedikit mendekat ke arah Nerion. "Maaf,” ucap Nerion. Maris semakin kebingungan dengan permintaan maaf itu. Ia benar-benar tak mengingat apapun tentang Nerion. "Apa...""...kita pernah saling mengenal?"Nerion menunduk, ia tak berani menatap mata Maris secara langsung."Ya,” jawabnya. "Namun… kau sudah tidak mengingatnya lagi,” lanjutnya. Maris mencoba mencerna jawaban yang diberikan Nerion itu. Meskipun begitu, ia tetap gagal memahaminya, “aku tidak mengerti."Nerion masih menundukkan kepalanya, “memang seharusnya begitu.""Aku datang...""...terlalu lambat."Maris memiringkan kepalanya sambil menyipitkan matanya.“Apa kau bi

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 6

    Sementara itu, Maris yang berhasil kembali ke perairan, menyelam dengan sekuat tenaga menuju kedalaman laut. Air menyambutnya.Dingin—namun menenangkan. Gelap—namun terasa seperti pelukan yang telah lama ia rindukan. Ia berenang cepat, tubuhnya bergerak lincah membelah arus, seolah sedang dikejar s

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 5

    “Lycander!” teriak Robert.Suara itu memecah sesuatu di dalam dirinya. Lycander tersentak. Napasnya terasa berat, seolah baru saja terbangun dari sesuatu yang dalam dan asing.Air laut telah mencapai hampir dadanya, dingin meresap hingga ke tulang. Namun anehnya, ia tak mengingat kapan melangkah se

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 4

    “Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.Manusia serigala itu ti

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   Bab 3

    “Si...siapa di sana?!” teriaknya parau, suaranya pecah di tengah rasa takut yang menyesakkan dada.Suara ranting patah terdengar semakin jelas.Sosok itu perlahan berjalan keluar dari kegelapan di antara pepohonan dan semak-semak, mendekat ke arah Maris. Setiap langkahnya terdengar berat dan teruku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status