“Hanya sekali lagi…”Kata-kata itu tidak berhenti di sana. Ia tidak menguap seperti pikiran lain yang biasa ia abaikan, tidak juga memudar seiring waktu. Justru sebaliknya—tetap tinggal, mengendap, lalu perlahan mendorongnya untuk benar-benar bergerak.“Sekali saja… lalu selesai,” bisiknya lagi, lebih pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Maris masih tepat di depan jendela. Tangannya yang tadi menyentuh permukaan kaca kini tidak lagi diam. Jarinya bergerak pelan, ragu, sebelum akhirnya mendorong jendela itu sedikit terbuka.Air laut di luar terasa lebih dingin dari biasanya—namun anehnya, juga terasa akrab. Ia tidak langsung keluar. Untuk sesaat, ia hanya diam di ambang itu, membiarkan arus menyentuh kulitnya perlahan.“…haruskah aku berhenti atau tetap lanjut?” bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar, seolah hanya untuk dirinya sendiri.Separuh tubuhnya masih berada di dalam, separuh lagi sudah berada di luar. Seolah ia
Última atualização : 2026-05-03 Ler mais