Share

BAB 24

Author: Riichan
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-02 18:34:05

Malam datang lebih cepat dari yang Maris sadari. Kamar itu kembali hening, sama seperti sebelumnya. Dan kali ini, keheningan itu terasa berbeda—lebih dalam, lebih penuh oleh sesuatu yang belum selesai.

Ia duduk sendiri sambil menatap jendela. Tidak melakukan apa-apa dan hanya diam. Namun pikirannya tidak benar-benar tenang, dipenuhi dengan kata-kata yang tadi hampir terucap.

“…aku…”

Ia mengulangnya dalam hati. Namun tetap tidak menemukan kelanjutannya. Seolah ada
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 121

    Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan terakhir mereka. Nerion kembali menjalankan tugasnya menyelidiki anomali arus, namun pikirannya sesekali masih kembali pada satu hal yang samaㅡMaris.Keganjilan yang ia rasakan saat bertemu dengannya belum benar-benar hilang. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin sering perasaan itu muncul kembali."..."Suatu sore, Nerion melihat Seraphine sedang sendirian di depan rumahnya. Duyung itu tampak fokus sedang merangkai bunga laut seperti biasanya."Seraphine."Seraphine menoleh dan tersenyum."Nerion."Nerion berenang mendekat dan ikut duduk tidak jauh darinya. Untuk beberapa saat, mereka hanya berbicara tentang hal-hal biasa. Tentang pemukiman, arus laut, dan beberapa kabar terbaru."Kau terlihat lelah,” ucap Seraphine yang akhirnya berhenti merangkai bunga."Apa separah itu?" tanya Nerion. "Lumayan."Seraphine tertawa kecil."Kalau begitu, aku harus mulai lebih sering beristirahat,” ucap Nerion sambil mengangguk pelan.Namun setelah itu

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 120

    Kesadaran Lycander kembali perlahan. Tubuhnya terasa berat dan nyeri di berbagai bagian. Bau darah yang samar masih tertinggal di indera penciumannya.Saat membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah pondok kecil di wilayah kawanan. Cahaya sore masuk melalui jendela dan membuat ruangan itu tampak sunyi.“Kau akhirnya bangun.”Suara Robert terdengar dari sudut ruangan. Lycander menoleh dan melihat sahabatnya sedang duduk sambil menyilangkan tangan.“Apa kau yang membawaku kesini?” tanyanya. “Pertanyaan konyol macam apa itu? Siapa lagi yang membawamu kesini selain aku?” jawab Robert sarkas. “Ya kau benar. Lalu berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Lycander lagi.“Tidak terlalu lama.”Robert terdiam sesaat.“Tapi cukup lama untuk membuatku memikirkan banyak hal.”Lycander menghela napas pelan. Ia sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Robert.Keheningan turun selama beberapa saat sebelum Robert akhirnya kembali berbicara.“Kau mengalahkan lima beruang hitam sendiri

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 119

    “Kenapa kau menjaga jarak, Lycander?” tanya salah satu rekannya. Beberapa rekan lain menoleh ke arah Lycander dan ikut mengangguk. Lycander masih terdiam, ia tetap kepikiran dengan mimpinya semalam. Perasaan tak nyaman atau lebih tepatnya bersalah masih membekas dalam dirinya. “Padahal hanya mimpi, tapi rasa bersalahku terasa sangat nyata,” batinnya. Robert yang juga berada di sana sesekali menatap ke arah Lycander. Memastikan tak ada perubahan pada dirinya. “Hey, Rob! Akhir-akhir ini kenapa kau selalu meminta dipasangkan dengan Lycander setiap kali mendapatkan giliran patroli?” tanya salah seorang rekan. Lycander mendengar obrolan itu, ia juga penasaran alibi apa yang akan dilontarkan oleh Robert pada rekan-rekan lain. Mengingat Robert masih diam-diam mengawasinya. “Lycander, satu-satunya rekan yang tak berisik seperti kalian,” jawab Robert. Jawaban Robert itu justru membuat Lycander sedikit tergelitik, sebab Robert pun juga seberisik rekan-rekan yang lainnya. “Konyol sekal

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 118

    Malam itu langit tampak cerah hingga bintang-bintang terlihat sangat jelas. Maris menikmati momen itu bersama dengan Lycander yang duduk di sampingnya.“Kau beruntung, Lycander!” ucap Maris. Lycander mengangkat alisnya sedikit terkejut mendengar pernyataan Maris itu. Melihat ekspresi Lycander yang seperti itu membuat Maris tersenyum sambil menatap langsung ke arah mata emas Lycander yang sedang menatapnya. “Ya, kau beruntung. Kau bisa menatap langit malam ini semaumu dan dari mana pun selama di daratan. Sedangkan aku…” sebelum Maris menyelesaikan ucapannya itu, Lycander memotong.“Shhhhhh,” bisiknya.Jari telunjuk Lycander tepat di depan bibir Maris seolah ingin menghentikan Maris bicara.“Kau lebih beruntung,” ucapnya akhirnya. Mata Maris sedikit membesar karena terkejut sekaligus penasaran dengan apa yg didengarnya itu.“Bagaimana aku lebih beruntung?” tanyanya.Pandangan Lycander beralih ke arah langit dan tersenyum lalu senyum itu sedikit menghilang saat ia memandang air laut y

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 117

    "Aku harus melakukan sesuatu."Kalimat itu terus terngiang di dalam benak Seraphine selama beberapa hari berikutnya. Bahkan ketika ia sedang sendirian atau ketika ia berusaha mengalihkan pikirannya pada hal-hal lain.Namun semakin ia mengingat pertemuan beberapa hari lalu, semakin sulit baginya untuk melupakan tatapan Nerion. Tatapan yang berubah semakin serius saat melihat kegugupan kecil Maris. Dan hal itu membuat hati Seraphine tidak tenang."..."Karena yang ia inginkan justru sebaliknya. Ia ingin Nerion berhenti melihat Maris.Selama ini, Seraphine selalu percaya bahwa jika Maris berubah, semuanya akan berubah pula. Ia mengira Nerion pada akhirnya akan berhenti memperhatikannya. Ternyata yang terjadi justru kebalikannya.Semakin ada sesuatu yang salah pada Maris… semakin Nerion terlihat memperhatikannya. Hal itu membuat dadanya terasa sesak."Kenapa?" pikirnya."Kenapa kau selalu melihatnya, Nerion?" gumamnya sendiri. Beberapa hari berikutnya, Seraphine kembali fokus memperhatik

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 116

    Beberapa hari setelah mimpi yang bahkan tidak dapat diingatnya, Maris kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia masih bertemu Seraphine hampir setiap hari, dan seperti biasa pula, Nerion yang baru kembali dari penyelidikannya tanpa sengaja bertemu dengan keduanya."Hai, apa kabar?" sapanya. Suara tenang itu membuat keduanya langsung menoleh. Seraphine tersenyum kecil. "Nerion!" seru Seraphine."Kau akhirnya kembali," lanjutnya. Nerion mengangguk pelan."Ya, aku kembali."Namun setelah mengatakan itu, tatapannya justru berhenti pada Maris."..."Perasaan aneh itu muncul lagi. Perasaan yang sama yang telah beberapa kali mengganggunya akhir-akhir ini. Dan entah kenapa, Nerion merasa ia tidak bisa terus mengabaikannya.Selama beberapa hari terakhir, ia terus meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah kebetulan. Anomali arus dan perasaan aneh yang muncul setiap kali melihat Maris tidak memiliki hubungan apa pun.Namun semakin lama, semakin sulit baginya untuk berpura-pura tidak

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 103

    Selama beberapa hari berturut-turut, Maris selalu menghabiskan waktu bersama Seraphine sepanjang hari seperti biasanya. Tidak ada tujuan khusus, hanya menghabiskan waktu bersama sambil menikmati arus yang tenang. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Maris. "Seraphine?” panggilnya.Seraphine menoleh

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 102

    Beberapa hari kemudian, Maris kembali menghabiskan waktu bersama Seraphine. Mereka duduk di taman karang yang tidak terlalu ramai, sementara arus laut bergerak pelan di sekitar mereka. Tidak ada tujuan khusus seperti biasanya, hanya menghabiskan waktu bersama."Aku dengar penjaga wilayah timur kemb

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 101

    Beberapa hari setelah malam itu, semuanya kembali berjalan seperti biasanya. Maris tetap muncul ke permukaan saat malam tiba, dan Lycander tetap menunggunya di tempat yang sama. Tidak ada gerhana, tidak ada keajaiban, dan tidak ada sesuatu yang mengubah dunia mereka.Namun anehnya, justru karena se

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 99

    Malam sudah larut saat Lycander meninggalkan pesisir. Ia baru saja berpisah dengan Maris beberapa saat lalu, langkahnya santai menyusuri jalur hutan yang sudah sangat dikenalnya. Namun belum jauh berjalan, ia melihat sosok yang berdiri di bawah pohon besar di depan sanaㅡRobert.Pria itu bersandar p

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status