"Kamu.. Oouugghh... Kamu beneran mau bikin aku encok jilid dua, ya?! Aahhh... Damian!" tubuh Bianca menggeliat pasrah dalam kungkungan Damian. "Hanya kamu, Bianca. Hanya kamu yang aku inginkan selama ini," bisik Damian, kali ini suaranya sedikit lebih emosional, meskipun wajahnya tetap terlihat kaku dan datar. Bianca tidak menjawab, ia sudah tidak sanggup lagi berpikir. Imajinasi liarnya yang biasanya penuh dengan komentar asal kini terbungkam, tergantikan dengan gairah liar yang ia dapatkan dari setiap gerakan pria di atasnya. Gadis itu seakan merindukan saat ini, meskipun ia berusaha membencinya. Permainan Damian sangat luar biasa, sangat memuaskan, hingga membuat Bianca mencapai klimaks berkali-kali dalam hitungan menit. "Damian... Aaahh... Aku... Aku udah nggak kuat! Aahhh!" ”Aku tahu.. Ssshhh.. Aahhh.. Tunggu aku, sayang.." ucap Damian, ia mempercepat gerakannya, memperdalam hentakannya. “Bianca.. Sama-sama.. Aarrgghh!!!” Detik berikutnya, semburan hangat cai
Read more