LOGINMendengar ajakan Damian, Bianca langsung teringat janjinya pada Velove. “Maaf, tapi besok akhir pekan aku gak bisa.. Aku udah ada janji dengan sahabat ku..” tolak Damian.
“Aku tahu, tapi—” “Gak bisa, Damian!” sahut Bianca cepat. “Kali ini aku beneran udah janji. Jangan mengancamku dengan apapun, atau aku akan benar-benar marah kali ini. Karena kalau sampai sahabat terbaik ku marah, kamu akan tanggung kemarahan ku juga!” ancam Bia"Kamu itu bener-bener ya, suamiku.." bisik Bianca, menangkup kedua pipi kaku Damian dengan telapak tangannya yang hangat.Tatapan mata Bianca terpancar begitu penuh cinta, ketulusan, dan rasa hormat yang mendalam pada pria di depannya."Terima kasih ya, Damian... Terima kasih sayang," ucap Bianca dengan nada lembut yang begitu menyentuh hati."Aku tahu kamu itu pria yang gak pinter ngomong manis atau obral janji. Tapi lewat tindakan nyata kayak gini... Aku bisa merasakan seberapa besarnya rasa cinta dan tanggung jawab kamu sebagai seorang suami dan calon papa."Damian bergeming sejenak di bawah sentuhan jemari Bianca di pipinya. Manik mata hitamnya yang biasa dingin dan sulit ditebak, kini meredup tipis, memancarkan rasa hangat yang sangat intim khusus untuk istrinya."Kamu pantas mendapatkannya, Bianca," pangkas Damian rendah, suaranya yang serak menyapu pendengaran Bianca."Aduuhhh... Suami dingin gue kalau lag
"Damian... Kamu beneran gak mual lagi kan? Jangan bohong cuma demi gengsi ya Pak suami," ucap Bianca penuh perhatian, matanya menatap rahang tegas suaminya yang berdiri di sampingnya. Begitu helikopter pribadi milik Delwyn Group mendarat mulus di helipad puncak gedung penthouse mereka, Bianca langsung melingkarkan tangannya di lengan Damian. Bianca memiringkan kepala, memperhatikan setiap perubahan raut wajah pria di sebelahnya. Damian melangkah tenang keluar dari pintu helikopter, membiarkan terpaan angin mengibarkan kemeja hitamnya yang tergulung rapi hingga siku. Satu tangannya merengkuh pinggang Bianca secara posesif, membawa istrinya melangkah hati-hati agar tidak tersandung. "Sudah jauh lebih baik," pangkas Damian penuh keyakinan. "Beneran? Awas aja ya kalau begitu sampai pintu penthouse kamu langsung lari ke kamar mandi terus muntah-muntah lagi! Aku gak mau kamu mak
"Karena karya ku memiliki jiwa dan karakter yang tidak bisa dibeli dengan uang atau senioritas," potong Bianca tenang namun menohok tajam. "Karya kamu indah, Clara. Tapi dibuat dengan kesombongan. Sementara karyaku dibuat dengan tulus untuk menghargai setiap wanita yang memakainya." Clara tertegun, kata-kata Bianca yang berkelas itu menyentuh bagian terdalam gengsinya hingga ia tak mampu membalas sepatah kata pun. 'Anjir, kata-kata gue tadi keren banget gak sih?! Bener-bener berkelas kayak sosok ratu di novel-novel!' bisik batin Bianca kegirangan. 'Gue gak boleh terpancing emosi meluap-luap kayak dulu lagi. Gue harus tunjukkan kalau gue ini pantas mendampingi pria Spek Dewa di samping gue ini!' Damian yang duduk di samping Bianca perlahan mengalihkan pandangannya dari Clara ke arah istrinya. Ada kilatan ketertarikan dan rasa bangga yang tersirat tipis di dalam manik mata pekatnya melihat
Aula utama di lantai dasar Villa Delwyn terasa sangat dingin dan mencekam. Damian duduk di sofa utama paling tengah. Ia mengenakan kemeja hitam santai dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, menunjukkan lengan kekarnya yang berotot. Tubuh tegapnya bersandar kaku, satu kakinya ditumpangkan ke kaki yang lain dengan gerakan yang sangat berwibawa dan penuh otoritas. Di samping kanannya, Bianca duduk dengan anggun mengenakan gaun terusan longgar bahan sutra warna cream. Tangannya bertaut rapi di atas pangkuan, menunjukkan pesona seorang Nyonya Besar yang tenang, berkelas, dan dewasa. Hans berdiri tegap di samping sofa, memegang sebuah map dokumen tebal dan iPad kerja yang menampilkan seluruh bukti transaksi digital. Brak! Pintu ganda aula utama terbuka lebar. Dua orang pengawal bertubuh tegap dan berpakaian serba hitam menyeret masuk seorang wanita bermakeup tebal yang
"Damian... Kamu merasa mual lagi gak?" bisik Bianca lembut, menyandarkan kepalanya di dada bidang Damian yang hangat. Tangannya yang melingkar di perut sixpack suaminya, membelai pelan untuk memberikan rasa nyaman. "Tidak," pangkas Damian singkat. "Bohong... Detak jantung kamu masih agak cepat begini," cicit Bianca polos. Ia mendongak, menyunggingkan senyuman paling manis dan anggun untuk meredakan emosi suaminya. "Siapa pun yang berani main-main sama kita malam ini, pasti orang yang sangat iri sama pencapaian aku sebagai perancang perhiasan utama di pameran mendatang, kan?" "Mereka akan hancur," pangkas Damian dingin, suaranya sangat tenang namun penu ancama bagi siapapun pelakunya. 'Anjir... Suami gue kalau udah mengeluarkan kalimat 'mereka akan hancur' pakai nada sedatar ini, rasanya aura pencabut nyawa langsung memenuhi seluruh kamar!' jerit batin Bianca bergidik geli
"Damian, kamu jangan coba-coba berdiri!" ucap Bianca penuh peringatan, tangannya menahan lengan kokoh suaminya saat pria itu hendak bergerak turun dari tempat tidur. Mata bulat Bianca berkedip panik. Ia melihat rahang tegas Damian kembali menegang kaku, sementara warna kulit di sekitar wajah tampan itu langsung memucat secara mendadak. "Huekk..!" Erangan mual yang sangat berat kembali lolos dari tenggorokan Damian. Pria itu membungkukkan tubuh tegapnya ke samping ranjang, menutupi mulutnya dengan satu telapak tangan. Urat-urat di sekitar leher dan pelipisnya menegang tajam, menahan gejolak hebat di lambungnya yang berontak secara tiba-tiba. "Tuh kan! Dengerin aku, Damian!" cecar Bianca panik, tangannya bergegas mengusap dan memijat tengkuk Damian dengan lembut. "Kamu itu baru aja kena Sindrom Couvade gara-gara mikirin aku! Badan kamu lagi lemas dan mual begini, masa mau nekat terbang nai
Bianca hanya bisa pasrah. Ia menyeret langkahnya keluar dari kamar dengan canggung, lalu duduk di kubikelnya sendiri sembari menyalakan tablet grafisnya dengan tangan yang masih gemetar kaku. Pikirannya benar-benar kosong, menyisakan kepanikan yang membuat napasnya putus-putus.Tadi… apa yang dire
Bianca terpaku sesaat, ia memberanikan diri menatap wajah Damian didepannya, pria yang kemarin menjadi sumber imajinasi liarnya. “Di bawah kungkungannya.. Bukan! Di bawah pengawasannya..’Bianca membeku. Berarti mulai hari ke depan… ia akan berurusan dengan pria di depannya?Dengan kejadian kema
Sambungan video diputus sepihak. Layar laptop Bianca langsung berubah hitam, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang sudah pucat pasi mirip mayat. Jadi… pria itu mendengarnya selama ini?!Malam itu benar-benar menjadi malam paling sial dalam hidup Bianca. Efek obat flu sialan itu mendadak hilan
"Kalau mau ajak tidur, minimal kayak gini!" Bianca mengomel sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya yang menampilkan visual sang bos. Kalimat sang mantan tadi masih terngiang di telinga Bianca, ingatannya memutar kembali saat pacarnya minta putus karena dirinya menolak untuk diajak tidur bersama.







