“Uhuukkk.. Uhuukkk.. Uhuukkk..” Bianca tiba-tiba terbatuk, ia mengambil minumnya dengan terburu-buru. “Bi, pelan-pelan.. Kamu kenapa?!” Dirga spontan berdiri mengusap punggung Bianca dengan cemas. Gadis itu mendadak membeku menerima sentuhan Dirga. “Ehemm.. Gapapa kak Dirga, cuma tiba-tiba aja tersedak.. Kayaknya ada yang lagi membatinku..” ucap Bianca sambil menegakkan tubuhnya, menghindari tangan Dirga. Pria itu merasakan perubahan sikap Bianca, ia segera menjauhkan tangannya dan kembali duduk di tempatnya. “Oh mungkin, hanya perasaanmu saja..” “Hmm.. Iya mungkin..” gumam Bianca. Ia menghela nafas panjang, tiba-tiba terlintas wajah Damian dalam pikirannya. ‘Apa jangan-jangan, Pak Damian yang lagi ngomongin aku ya?! Dia pasti merintah Pak Hans buat melacak ponselku..!’ ** Damian melangkah dengan santai, menaiki tangga eskalator, langkah kakinya tidak terburu-buru, seakan tidak sedang memburu seseorang. ‘Setelah ini, kamu akan menerima hukuman mu, Bianca..’ Begitu kak
続きを読む