"Kaina Ghazan Adam. "A-ampun, Kak, ampun," panik Kaina ketika melihat kakaknya menghampirinya. Namun, sejujurnya inilah niat Kaina. Karena insiden di pantai tadi, Kaina jadi tak berani menghadapi kakaknya. Untuk sekedar berbicara pun dia takut. Oleh karena itu dia memancing kakaknya dengan cara ini, supaya kakaknya bersuara dan berbicara padanya. "Coba ulangi sikapmu tadi di hadapan Kakak," dingin Xavier, menatap tajam dan penuh peringatan pada adiknya. Dia mencondongkan tubuh ke arah Kaina, mendekatkan wajahnya ke wajah Kaina. Satu tangannya di pundak sang adik, menekannya supaya Kaina tak kabur kemna-mana. "A-ampun, Kak, ampun. A-aku sudah bertobat. Ta-tadi hanya bercanda," gugup Kaina. Dia mengangkat tangan dengan jari yang membentuk huruf 'V, lalu memperlihatkan cengiran khas pada sang kakak, "cin-cinta damai, Kak," tambah Kaina. "Awas saja jika kau berani mengganggu istri Kakak, Kai," peringat Xavier, kini meletakkan tangan di atas pucuk kepala adiknya. Dia menepuk-nepu
Baca selengkapnya