"Kau ini seperti mommymu saja, pembuktian harus dengan salto," ucap Kaizen dari tempatnya, geleng-geleng kepala sambil menatap tak habis pikir pada sang menantu. Ah, sepertinya perempuan di rumah ini … semuanya gemar salto. Istri, purtinya, dan sekarang menantunya. Mungkin hanya keponakannya perempuan yang normal di rumah ini. "Jangan dengarkan dia, Sayang." Aluna berbisik pelan pada Sera. Satu tangannya memeluk lengan Sera, lalu satu lagi berdiri di dekat sudut bibir—sebagai penghalang saat berbisik supaya gerakan bibirnya tak terbaca, "si tua sok ketampanan tapi memang tampan itu suka bohong. Bukan! Suka fitnah lebih tepatnya, Nak. Kamu tahu?! Mommy habis difitnah sama dia.""Hehehe … i-iya, Mom. Aku kan di sana saat Kai cerita soal itu," cengenges Sera. "Tukang fitnah!" sinis Aluna, memutar bola mata secara jengah lalu menatap sinis pada suaminya. "Aku berniat bercanda, Aimee. Timee yang terlalu serius. Bukan salahku," jawab Kaizen, membela diri sekalipun dia sudah terdakwa ber
Leer más