Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Nayaka, namun rasa mual yang kini bergejolak di perutnya bukan berasal dari luka operasi. Kata-kata pengacara itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Nama Lucien… lelaki yang baru saja mengorbankan nyawanya bersamanya, dicatat sebagai orang yang mengawal ambulans maut sang kakek sepuluh tahun lalu. Nayaka mencoba mengatur nafasnya yang mulai memburu. Ia menatap punggung Lucien yang masih berdiri tegak di depan kaca ruang bayi. Sosok itu terlihat begitu kokoh, namun di mata Nayaka, bayangan Lucien kini tampak seperti monster yang bersembunyi di balik setelan jas mahal. "Nona, Anda harus segera masuk ke ruang operasi. Pendarahannya semakin parah," tegur perawat sambil mencoba mendorong brankar. "Tunggu," desis Nayaka. Ia mencengkeram pinggiran brankar, jarinya memutih saking kuatnya. "Beri aku waktu dua menit," pintanya lirih. Nayaka memberi
Last Updated : 2026-04-24 Read more