Suara desis digital yang halus itu mengingatkan Nayaka pada suara malaikat maut. Balik kain bedong lembut, cahaya lampu merah kecil itu berkedip dengan ritme yang konstan, seiring dengan irama pernapasan bayi tidur yang tenang. Nayaka merasakan jemarinya membeku. Sebagai mantan agen yang ahli dalam bahan peledak, ia tahu ini bukanlah ancaman kosong.Kakek Wijaya berdiri di sana, di bawah sorot lampu Jeep, nampak seperti patung batu yang tak punya hati. Wajahnya yang rusak tersenyum puas."Jangan dilepas, Aurora," suara Kakek Wijaya memecah sunyi pantai. "Satu tarikan kasar, dan setengah dari Jakarta akan melihat kembang api paling megah malam ini. Gedung-gedung itu, kerja keras sepuluh tahunmu, semua akan jadi debu."Lucien bergerak maju, namun Nayaka segera menahan lengan pria itu. Tatapannya tajam, memberi peringatan. "Jangan dekat-dekat, Lucien. Alat ini sensitif terhadap tekanan."Lucien berhenti, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehe
Last Updated : 2026-04-28 Read more