Pukul 05.00 pagi. Langit timur di atas Menteng mulai oranye, memberi cahaya lembut pada mawar putih yang baru ditanam di bekas pos jaga lama. Nayaka berdiri di teras paviliun, menghirup udara pagi yang segar. Tidak ada lagi bau logam dari perangkat elektronik panas, tidak ada lagi rasa waspada. Ia tidak lagi mengecek ponsel enkripsinya, karena benda itu sudah lama tidak ada. Ia juga tidak lagi memikirkan faksi Kebayoran Baru. Bagi mereka, faksi itu sudah jadi masa lalu yang memudar. Lucien Ashford keluar dari paviliun dengan langkah tenang, membawa dua cangkir kopi yang masih mengepul. Ia pakai kemeja katun ringan, terlihat seperti orang biasa yang sedang libur panjang, bukan orang yang pernah mengendalikan arus komoditas maritim terpenting di Indonesia. Ia meletakkan kopi di meja marmer, lalu berdiri di samping Nayaka, membiarkan keheningan pagi menyatukan mereka. "Auroran telepon dari stasiun," bisik Lucien. "Dia bilang akan
Read more