Matahari pagi terbit di atas langit Jakarta, tersapu kabut tipis polusi yang membiaskan cahaya keemasan redup di antara jajaran gedung pencakar langit. Bagi jutaan penduduk kota megapolitan ini, Kamis pagi adalah awal dari rutinitas yang riuh, klakson kendaraan yang bersahut-sahutan di jalan arteri, deru mesin bus kota, dan lautan manusia yang berjejal di peron stasiun kereta komuter. Namun bagi dua remaja yang berdiri di pinggir trotoar kawasan Jakarta Selatan, riuhnya kota ini terasa seperti ledakan sensorik yang konstan. Aries membetulkan letak kerah kemeja putih seragam barunya yang terasa terlalu kaku dan menempel ketat di lehernya. Di balik kain seragam putih-abu-abu itu, tubuh tegapnya yang terlatih di kerasnya hutan Gunung Salak tampak menonjol, membuat beberapa siswi sekolah lain yang melintas di trotoar menyempatkan diri untuk menoleh. Di sampingnya, Lyra berdiri anggun dengan rok abu-abu sebatas lutut dan rambut hitamnya yang terikat rapi. Tas punggung hitam yang mer
Read more