Pagi itu, Gunung Salak diselimuti oleh rintik hujan tipis yang membuat aroma tanah basah menguar kuat. Di dalam kamarnya, Lyra duduk bersila di atas lantai kayu, mencoba melakukan meditasi fajar yang diajarkan oleh Juno. Namun, tidak seperti biasanya, kedamaian yang ia cari seolah menjauh. BZZZZ... BZZZZ... Sebuah dengungan tajam tiba-tiba menghantam gendang telinganya, disusul oleh rasa sakit yang menusuk tepat di belakang pelipisnya. Lyra terengah-engah, mencengkeram kepalanya yang terasa seolah sedang dihantam oleh palu godam tak kasat mata. Matanya yang biru jernih seketika berpendar terang, dan dalam penglihatannya, dunia di sekelilingnya tidak lagi berwarna hijau hutan, melainkan dipenuhi oleh garis-garis frekuensi elektromagnetik berwarna merah neon yang saling bersilangan di udara. "A-apa ini...?" bisik Lyra dengan napas yang memburu. Selama ini, Penglihatan Biru miliknya hanya menangkap aliran energi alam dan emosi makhluk hidup di sekitarnya. Namun kali ini, ada sesu
Read more