Bau apak, lembap, dan samar aroma karat besi menyengat indra penciuman begitu pintu bangsal tahanan dibuka. Garendra berdiri tegak di lorong yang minim pencahayaan, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi sedingin es. Di sampingnya, seorang petugas sipir berdiri dengan gelisah, memegang papan klip berisi laporan kesehatan tahanan.“Tuan Garendra, Ibu Anda mengalami depresi berat selama berada di dalam penjara,” sipir itu menjelaskan dengan suara rendah, mencoba menyampaikan situasi dengan hati-hati. “Belakangan ini beliau sering berhalusinasi, menolak makan, dan terus-menerus meracau di sudut sel.”Mendengar kata 'Ibu', rahang Garendra mengeras. Ia menoleh perlahan, memberikan tatapan tajam yang sanggup membuat sipir di sebelahnya langsung menundukkan kepala.“Perlu digarisbawahi, Pak,” ucap Garendra, suaranya pelan tapi sarat akan penekanan yang mengancam. “Wanita tua di dalam sana itu bukan ibu saya. Dia hanya sekadar wanita tidak tahu malu yang menyusup ke tengah-teng
Baca selengkapnya