Jantung Arumi rasanya mau copot. Pasokan oksigennya menipis, bukan hanya karena ciuman Dimitri yang kian menuntut, melainkan karena rasa takut yang luar biasa jika Garendra nekat mendobrak pintu dan menyaksikan pengkhianatan visual ini di depan matanya sendiri. Arumi menggigit bibir Dimitri dengan sisa tenaga yang ia miliki, berniat menghentikan aksi gila pria itu. Dimitri melenguh kesakitan, tarikan napasnya memburu saat ia akhirnya menjauhkan wajahnya, menyisakan jarak beberapa sentimeter saja dari bibir Arumi yang kini memerah dan basah. Ada setitik darah di sudut bibir Dimitri, namun pria itu justru menyeringai puas, menatap Arumi yang terengah-engah dengan air mata yang mengalir deras. “Jangan bergerak, atau aku akan membuka pintu ini dan membiarkan suamimu melihat apa yang baru saja kita lakukan,” bisik Dimitri teramat lirih, tepat di depan wajah Arumi, sembari ibu jarinya mengusap kasar bekas ciumannya di bibir Arumi. “Kamu … iblis, Dimitri,” bisik Arumi parau, tubuhnya lema
Read more