“Sebab Mas Garendra sudah berjanji,” sahut Arumi pelan. Nada suaranya begitu datar, tanpa intonasi marah, tapi justru mematikan. “Mas bilang sore tadi, saat mau meninggalkan saya di toko buku, kalau Mas belum memberi kabar berarti masih ada rapat, dan saya disuruh tunggu di halte, nanti Mas jemput. Jadi, saya menunggu. Saya takut kalau saya pulang duluan dengan taksi, Mas akan mencari saya di sini dan merasa bersalah karena sudah telat.” Arumi menjeda kalimatnya, menatap lekat pakaian Garendra yang rapi, wangi parfum mewah yang samar, berbanding terbalik dengan aroma tanah dan hujan, serta sisa-sisa binar kebahagiaan yang belum sepenuhnya pudar dari wajah suaminya sebelum melihatnya tadi. “Tapi sepertinya ... ketakutan saya keliru, ya?” Arumi tersenyum getir, menunduk menatap sepatunya yang basah. “Mas Garendra sama sekali tidak berpikir seperti itu. Mas sedang bahagia, ya, hari ini? Sampai-sampai, waktu berjam-jan tidak terasa sama sekali bagi Mas.” “Rumi, bukan begitu—” “Ayo pul
Read more