"Kumohon, maafkan aku, Garendra ...." Suara Arumi bergetar, pecah oleh tangis yang sejak tadi ia tahan. Ia merangsek maju, memeluk tubuh kokoh Garendra dengan begitu erat—seolah jika ia melepaskannya sedetik saja, pria itu akan lenyap dari hidupnya. Arumi tidak peduli lagi pada harga dirinya. Ia bahkan mengabaikan keberadaan Angga yang berdiri tak jauh dari mereka, menyaksikan kerapuhannya. Saat ini, baginya dunia seolah runtuh, dan satu-satunya jangkar yang bisa menyelamatkannya hanyalah kata maaf dari bibir suaminya. Garendra bergeming dalam dekapan hangat itu. Wajahnya mengeras, menatap dingin ke arah mobil di belakang Angga. "Pergilah, Angga," perintah Garendra, suaranya terdengar datar dan dingin menembus tulang. "Bawa jasad perempuan itu dan segera kremasi. Buang abunya ke pantai." Angga tersentak kecil, namun dengan cepat menguasai diri. Ia membungkuk hormat. "Baik, Tuan." Saat melangkah kembali menuju mobil, benak Angga dipenuhi oleh tanda tanya besar yang berkecamu
Read more