"Mana Dokter Marsya, Angga?" Suara lembut Arumi memecah suasana ruang rawat Garendra yang didominasi aroma antiseptik. Angga, yang baru saja melangkah masuk, sedikit tersentak. Lamunannya tentang percakapan pahit di koridor tadi dengan Marsya buyar seketika. "Maaf, Nyonya," sahut Angga, menunduk dalam demi menyembunyikan gurat kegelisahan di wajahnya. "Saya tidak bertemu dengan Dokter Marsya." Arumi mengerutkan kening, kecemasan mulai terpatri di sorot matanya yang teduh. "Kau jaga Garen saja di sini, biar aku yang mencarinya." "Tidak perlu, Nyonya," potong Angga cepat, hampir terlalu cepat. Ia menelan ludah, memaksakan ketenangan yang tidak ia rasakan. "Dokter Marsya sedang tidak bertugas di rumah sakit hari ini." Arumi tertegun. "Benarkah? Padahal dokter jaga bilang tadi ia sedang melakukan observasi. Apa mungkin dia sedang keluar sebentar?" Angga merasakan keringat dingin mengalir di tengkuknya. Ia harus berbohong lebih dalam untuk melindungi rahasia yang ia tahu akan menghan
Read more