“Ooouuhh ….”Lenguhan itu bukan lagi sekadar suara. Melainkan sebuah gema dahaga yang memantul di dinding-dinding kamar yang sunyi, mengisi setiap celah udara dengan gelombang hasrat yang pekat. Di atas ranjang, dua beban tubuh sedang merintih, sinkronisasi gerakan mereka seakan menantang gravitasi. Kayu ranjang berderit ritmis, sebuah melodi panas yang lahir dari gesekan kulit yang mulai bersimbah peluh yang licin.Di bawah remang lampu yang temaram, siluet mereka menyatu tanpa sehelai benang pun yang menghalangi. Pria itu, dengan otot-otot punggung yang menegang sempurna di setiap dorongan, terus memacu ritme yang membuat dunia wanita di bawahnya jungkir balik.“Lebih dalam lagi, Ren! Ya, terus … di situ. Oouuuh!”Suaranya pecah, serak oleh kenikmatan yang nyaris tak tertahankan. Wanita itu mendongak, leher jenjangnya meregang hingga urat-urat halusnya terlihat jelas di bawah cahaya redup. Pupil matanya tenggelam ke balik kelopak yang bergetar hebat, menyisakan warna putih dengan sk
閱讀更多