Garendra berdiri mematung di ambang pintu, menatap Arumi dengan sorot mata yang sulit diartikan. Rambutnya masih sedikit basah sisa mandi, aroma sabun maskulin yang segar menguar, memenuhi rongga paru-paru Arumi dan mengacaukan sisa-sisa kewarasannya.“Kamu kenapa, Rum?” tanya Garendra sekali lagi, suaranya berat, kontras dengan badai yang sedang mengamuk di dalam diri Arumi.Arumi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, perlahan tapi pasti, hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh tegap suaminya. Arumi mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata Garendra yang kelam. Wanita itu meraih tangan Garendra, menempelkan telapak tangan pria itu ke pipinya yang merona panas, lalu perlahan membawanya turun ke arah lehernya—tepat di atas bekas kemerahan yang ia tutupi tadi.“Hei, kamu kenapa?”Garendra tersentak kecil, otot rahangnya mengeras. Ia mencoba menarik tangannya, tapi Arumi menahannya deng
Baca selengkapnya