“Tempat ini sudah tidak aman,” ujar Garendra saat keluar dari kamar mandi, tubuhnya yang dibalut handuk kimono, terlihat lebih segar dari sebelumnya. Pria itu telah menuntaskan hasratnya kepada snag istri. “Apa maksudmu, Mas?” tanya Arumi menautkan kedua alisnya. Sebelum menjawab, Garendra melirik jam yang bertengger di atas dinding. “Kita pergi sebelum jam satu dini hari.” “Ke-kemana? Tapi kenapa kita harus pergi?” Garendra menghempaskan tubuhnya di samping Arumi yang masih tidur di atas kasur. Tampak wanita itu sangat kelelahan hingg untuk pergi ke kamar mandi saja sudah tidak sanggup. “Jangan banyak tanya, Arumi,” bisiknya tepat dicuping telinga snag istri. “Saya mendapat firasat buruk, jika malam ini akan ada seseorang yang ingin berbuat jahat pada … kita.” “Ibu?” Arumi bertanya. “Dia bukan ibu saya, jadi … tidak perlu kamu memanggilnya dengan sebutan itu. Ibu sudah meninggal lima belas tahun lalu, tepat saat saya masih berusia lima belas tahun.” “Jadi—“ “Ayo, s
Baca selengkapnya