“Sebaiknya kita ke kamar saja, sepertinya kamu kurang enak badan. Cuaca di sini memang beda jauh dengan di Jakarta.” Garendra memeluk tubuh Arumi yang hanya memakai stelan blus dan celana jeans. “Sepertinya begitu, Mas. Sebaiknya kita segera kembali ke kamar saja.”Begitu pintu kamar di lantai tiga itu tertutup rapat, sunyi langsung menyergap mereka. Kamar baru ini memang tidak seluas yang sebelumnya, namun penataan furnitur kayu dan pencahayaan lampu temaram di sudut ruangan memberikan atmosfer yang jauh lebih privat—dan entah mengapa, terasa menjebak bagi Arumi.Arumi masih berdiri mematung di dekat nakas, sementara Garendra berjalan perlahan melepaskan hoodie hitamnya, menyisakan kaus oblong putih yang melekat pas di tubuh tegapnya. Pria itu berbalik, menatap Arumi yang masih tampak gelisah dengan jemari yang saling bertautan."Kamu masih kedinginan, Rum?" suara Garendra memecah keheningan, berat dan rendah."Ah ... s-sedikit, Mas," jawab Arumi terbata.Garendra tidak menjawab lag
Read more