Sementara itu di sisi lain, suara guci pecah di ruang komando menghantam telinga Myrrathis. Ia terdiam, dadanya mengencang."Guci…?"Kilatan suara itu tak seharusnya memicu apa pun, hanya barang jatuh. Tapi tubuh Myrrathis membeku. Tatapannya kehilangan fokus. Aroma tanah basah, asap perkemahan, dan teriakan para prajurit mulai menghilang dari telinganya.Dunia di sekitarnya memudar.Digantikan…Cahaya senja, halaman kastil masa kecilnya, dan suara pecahan guci yang sama.Ia kembali menjadi seorang anak. Sendirian, kesepian, dan diam, yang berdiri di tengah halaman tempat ia biasa duduk memandangi satu-satunya benda yang membuatnya merasa dicintai. Guci kecil dengan ukiran awan, hadiah dari orang tuanya, sebelum semuanya berubah.Hari itu, ia memegang guci seperti memegang hati sendiri. Dan kemudian... guci itu dihantam sesuatu, dan akhirnya pecah tak berbentuk.Myrrathis menoleh.Dua sosok yang seharusnya ia panggil 'Ayah' dan 'Ibu' berdiri di depan pecahan guci, wajah mereka dipenuhi
Terakhir Diperbarui : 2026-05-01 Baca selengkapnya