تسجيل الدخولBelliza menunduk, mengangkat kucing putih itu ke dalam gendongannya. Saat ia memperhatikan lebih teliti, bulu lembut itu memantulkan cahaya samar, dan mata bulat si kucing... berwarna keemasan, mirip sekali dengan milik Aurora, si Peri berstatus tinggi.Belliza terdiam. Jantungnya bergetar pelan.Ia menundukkan wajah, berbisik sangat halus, "Aurora...?"Kucing itu tersenyum kecil, senyuman samar yang hampir tidak terlihat.Belliza spontan mengangkat kedua alisnya sebelum cepat-cepat menahan ekspresi, menyembunyikan reaksi itu seolah tidak terjadi apa-apa.Saat ia menoleh, semua mata tertuju padanya. Ia menelan ludah sebentar, tidak terlalu kentara untuk menyembunyikan kegugupannya."Aku rasa, kucing kecil ini tidak berbahaya," ujarnya lembut sambil mengusap bulu putih bersih itu."Bagaimana kau tahu, Grand Duchess?" tanya Varella hati-hati."Entahlah, tapi perasaanku berkata begitu," jawab Belliza, santai dan yakin."Tapi tidak semua hal bisa dikaitkan hanya dengan perasaan, Grand Duc
Perjalanan mereka berlangsung mulus sejauh ini. Roda kereta berputar stabil, bergoyang lembut mengikuti medan jalan. Namun, di dalam kereta, suasana jauh dari kata nyaman. Belliza dan Varella duduk berhadapan tanpa banyak bicara. Keduanya sama-sama menjaga sikap, sama-sama terikat aturan bangsawan, dan sama-sama canggung pada pertemuan pertama mereka.Tapi bayangan Varella dan Myrrathis berjalan berdampingan di lorong istana beberapa hari lalu terus menghantam pikiran Belliza. Setiap kali mengulang momen itu, dadanya seperti ditarik ke bawah… rasanya berat dan mengganggu.Pada akhirnya, ia tahu diam tidak akan membuat rasa itu hilang."Duchess Varella?"Varella menoleh, sedikit terkejut. Senyum tipis terukir di bibirnya, sopan namun tetap menjaga jarak. Rambut keemasannya berkilau terkena sinar matahari yang masuk dari jendela."Ya, ada apa, Grand Duchess?"Belliza menarik napas pelan. "Aku ingin menanyakan sesuatu.""Kau bisa menanyakannya."Tatapan Belliza sedikit merendah, lalu k
Malam itu, ruang makan kediaman Grouss tampak ramai oleh cahaya, namun sunyi oleh hati yang saling menjauh. Para pelayan berlalu-lalang menata hidangan, tetapi suara langkah mereka hanya menjadi gema yang tidak benar-benar menyentuh siapa pun.Belliza duduk di kepala meja dengan posisi anggun, namun jari-jarinya yang saling menggenggam di atas meja menyimpan sesuatu yang tak bisa disembunyikan. Ketegangan yang merayap, dan hati yang memberat.Di sisi kirinya, Meline duduk dengan wajah datar yang dingin. Sejak awal, wanita itu tidak menatap Belliza sekali pun. Ada jarak halus namun tajam di sana, seperti sekat kaca yang tak terlihat namun menyakitkan.Grezine tampak berusaha ceria, tetapi tatapan matanya gugup. Raysenne tenang, tapi ketegangan bahunya jelas terlihat. Dan Tuan Brondez yang duduk di seberang berusaha menyamankan suasana dengan senyuman tipis yang sopan.Begitu para pelayan mundur dan pintu ditutup, hening tebal turun perlahan, menyesaki ruangan seperti kabut dingin.Belli
Suara-suara di lorong memudar. Yang tersisa hanya denyut halus di telinga Belliza dan rasa mencekik di tenggorokan. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menekan sesuatu yang menghangat di balik mata. Belliza ingin mengulurkan tangan, memanggil Myrrathis, tapi suara itu mati di kerongkongan. Bukan karena ia marah pada pria itu, tidak sedikit pun. Tapi karena ia merasa… tak pantas menyela.Jadi ia hanya berdiri. Memilih untuk memendam semua yang ingin ia ucapkan. Ia menonton dari jauh saat Myrrathis dan Varella melangkah berdampingan, perlahan menghilang di tikungan.Dan saat punggung mereka lenyap, seakan ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut tenggelam. Lorong terasa dingin. Seolah Myrrathis membawa serta kehangatan itu pergi.Belliza masih terdiam ketika sebuah sentuhan ringan menyentuh pundaknya. Ia sontak menoleh.Lucarien.Wajah pria itu memancarkan kebingungan bercampur kekhawatiran. "Ada apa, Grand Duchess? Apa sesuatu mengganggumu?"Belliza menahan napas sejenak, lalu menatap
Aula pertemuan siang itu tampak hening. Para prajurit yang menjaga pintu menunduk hormat ketika satu per satu para pemimpin wilayah mulai memasuki aula.Count Lucarien melangkah masuk lebih dulu, wajahnya yang biasanya ramah kini tampak mengeras oleh ketegangan. Di belakangnya, Viscount Elandor menyusul dengan langkah teratur. Tak lama kemudian, Duchess Varella muncul, membawa elegan khasnya yang lembut namun berwibawa.Dari ujung ruangan, Belliza mengamati mereka satu per satu. Ia duduk dengan tampak tenang, meski jantungnya tidak. Ada seseorang yang ia tunggu sejak tadi, seseorang yang kedatangannya justru membuat hatinya terasa semakin berat.Dan akhirnya... pintu kembali terbuka.Myrrathis.Pria itu melangkah masuk dengan langkah tenang, namun ada sesuatu yang berbeda hari itu. Pandangannya sempat bertemu dengan Belliza, hanya sekejap, namun cukup untuk membuat napasnya tercekat.Bukan karena ia ingin menghindar. Hanya saja ia tidak ingin membuat Belliza semakin terbebani. Karena i
Aurora melayang perlahan ke bawah, mendekati buku tebal yang sejak tadi hanya digenggam tanpa pernah dibuka. Sayapnya mengepak lembut, menghasilkan kilau emas tipis yang jatuh ke sampul usang berwarna gelap itu.Belliza mengusap sisa air mata di pipinya, napasnya kini lebih teratur. Meski dadanya masih sesak, ada sedikit ruang untuk bernapas dan berpikir. Aurora-lah yang menciptakan ruang itu.Aurora menyentuh sampul bukunya. Cahaya tipis berpendar dari ujung jarinya, membuat kontur tulisan di sampul tampak lebih jelas."Buku ini..." ucap Aurora pelan, "tidak sepenuhnya salah. Tapi juga... tidak sepenuhnya benar."Belliza mengerjap, bingung. "Maksudmu?"Aurora memandangnya lama, seolah menimbang sesuatu yang berat."Ratusan tahun sebelum keluarga Grouss berdiri di Autronia... Kaum Ven dikenal sebagai kaum terkuat di seluruh penjuru kekaisaran. Para penguasa tunduk bukan karena takut akan pemberontakan..." Ia berhenti sejenak, suaranya merendah seperti rahasia yang dijaga rapi. "Melain







