Raja Lucien menyambar jubah wol tebal berwarna arang dari gantungan dinding kamar dengan satu sentakan tangan yang cepat, lalu melemparkannya ke bahu Ratu Celina untuk melindungi istrinya dari udara dingin subuh istana."Kau yakin ingin ikut naik ke bukit utara bersamaku, Baginda? Padahal kita baru saja berencana tidur seharian penuh di istana," protes Celina lembut dengan nada jenaka, merapikan kancing jubah tersebut di depan cermin besar sementara matanya melirik ke arah suaminya melalui pantulan kaca.Lucien melangkah mendekat, melingkarkan kedua tangannya dari belakang di pinggang ramping istrinya lalu menumpukan dagunya di bahu Celina. "Aku tidak mungkin membiarkan ratu-ku pergi ke luar istana sendirian saat fajar menyingsing, terlebih lagi rencana liburan seharian kita hari ini dimulai dari sana," bisik Lucien parau tepat di telinga Celina, mengecup pelan leher istrinya hingga Celina mendengus geli."Alasanmu selalu saja ada, Raja yang posesif," cibir Celina manja, memutar tubuh
Read more