Teilen

Bab 161

last update Veröffentlichungsdatum: 30.08.2026 11:35:36

Raja Lucien menutup pintu kamar tidur utama dengan satu dorongan kaki yang cepat, lalu langsung mengangkat tubuh Ratu Celina ke dalam dekapannya begitu mereka tiba di balik pintu yang tertutup rapat dari pesta dansa Adipati Sterling.

Celina terpekik kecil karena terkejut, namun tawa renyah langsung lolos dari bibirnya saat ia melingkarkan kedua tangannya secara otomatis di leher suaminya. "Lucien! Kau benar-benar tidak sabar, ya? Kita bahkan baru saja turun dari kereta kuda!" protes Celina manj
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 164 End

    Raja Lucien menghempaskan tumpukan dokumen laporan dewan menteri ke atas meja kerja mahoni dengan satu gerakan tangan yang cepat, lalu menghela napas panjang sebelum berbalik menghadap Ratu Celina yang baru saja melangkah masuk membawa secangkir teh mawar hangat kesukaannya."Aku resmi mendeklarasikan pensiun permanen dari membaca tumpukan kertas membosankan ini mulai detik ini juga, Celina," ujar Lucien dengan suara bariton seraknya yang khas, tersenyum kecil sambil melangkah lebar mendekati istrinya.Celina menyerahkan cangkir teh tersebut, lalu mendengus geli sembari merapikan kerah kemeja suaminya dengan penuh kelembutan. "Kau berbicara seolah-olah kau adalah pegawai rendahan istana, Baginda Raja. Padahal kau baru saja mangkir dari tiga rapat penting dewan menteri sore ini," tegur Celina lembut penuh canda, matanya berbinar hangat.Lucien menyambar pinggang ramping istrinya dengan kedua tangannya, menarik tubuh Celina rapat-rapat hingga tidak ada celah di antara mereka. "Biarkan p

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 163

    Raja Lucien menyambar jubah wol tebal berwarna arang dari gantungan dinding kamar dengan satu sentakan tangan yang cepat, lalu melemparkannya ke bahu Ratu Celina untuk melindungi istrinya dari udara dingin subuh istana."Kau yakin ingin ikut naik ke bukit utara bersamaku, Baginda? Padahal kita baru saja berencana tidur seharian penuh di istana," protes Celina lembut dengan nada jenaka, merapikan kancing jubah tersebut di depan cermin besar sementara matanya melirik ke arah suaminya melalui pantulan kaca.Lucien melangkah mendekat, melingkarkan kedua tangannya dari belakang di pinggang ramping istrinya lalu menumpukan dagunya di bahu Celina. "Aku tidak mungkin membiarkan ratu-ku pergi ke luar istana sendirian saat fajar menyingsing, terlebih lagi rencana liburan seharian kita hari ini dimulai dari sana," bisik Lucien parau tepat di telinga Celina, mengecup pelan leher istrinya hingga Celina mendengus geli."Alasanmu selalu saja ada, Raja yang posesif," cibir Celina manja, memutar tubuh

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 162

    Raja Lucien menghempaskan tubuhnya ke atas sofa beludru panjang di ruang kerja pribadinya, lalu melonggarkan kerah seragam militer hitam yang masih melekat di tubuhnya dengan satu sentakan tangan yang cepat."Kau baru saja tiba dari perbatasan barat dua jam yang lalu, Baginda, dan sekarang kau sudah mengurung diri lagi di ruang kerja penuh tumpukan dokumen?" tegur Ratu Celina lembut sambil membuka pintu ruang kerja perlahan, melangkah masuk dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hitam hangat.Lucien mendongak, menyipitkan mata elangnya lalu mendengus pelan. Ia menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya. "Kemarilah, Celina. Dokumen-dokumen ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa rinduku yang belum tuntas sejak aku kembali ke istana," rayu Lucien parau dengan suara baritonnya yang membuai.Celina tersenyum geli, melangkah mendekat dan meletakkan nampan teh di atas meja mahoni sebelum duduk di samping suaminya. "Kau ini... gombalanmu semakin hari semakin tidak punya batasan," c

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 161

    Raja Lucien menutup pintu kamar tidur utama dengan satu dorongan kaki yang cepat, lalu langsung mengangkat tubuh Ratu Celina ke dalam dekapannya begitu mereka tiba di balik pintu yang tertutup rapat dari pesta dansa Adipati Sterling.Celina terpekik kecil karena terkejut, namun tawa renyah langsung lolos dari bibirnya saat ia melingkarkan kedua tangannya secara otomatis di leher suaminya. "Lucien! Kau benar-benar tidak sabar, ya? Kita bahkan baru saja turun dari kereta kuda!" protes Celina manja dengan mata berbinar jenaka.Lucien tidak memedulikan protes itu. Ia berjalan cepat membawa istrinya menuju ranjang beludru besar, membaringkan Celina dengan lembut sebelum mengurung tubuh istrinya di antara kedua lengannya. "Aku sudah menahan diri selama dua jam penuh di aula yang penuh dengan para bangsawan sok sokan itu, Celina. Sekarang waktunya bagiku untuk menagih waktu pribadi dengan ratu-ku," bisik Lucien parau dengan suara baritonnya yang membuai.Celina menangkup rahang suaminya deng

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 160

    Raja Lucien menyambar dasi kupu-kupu sutra hitam dari tangan kepala pelayan dengan gerakan cepat, lalu melilitkannya sendiri di kerah kemeja putihnya di depan cermin besar kamar utama. Ia merapikan ujung jas formal beraksen emas yang membalut tubuh tegapnya, sebelum membalikkan badan begitu mendengar derap langkah anggun dari arah kamar ganti.Ratu Celina melangkah keluar dengan balutan gaun malam panjang berwarna safir tua berkilau yang memeluk sempurna siluet tubuhnya, sementara rambut panjangnya disanggul modern dengan hiasan permata kecil yang memantulkan cahaya lampu kristal.Lucien terpaku seketika, menghentikan gerakan tangannya di udara. Ia melangkah lebar mendekati istrinya, lalu menangkup kedua pipi Celina dengan lembut. "Demi para dewa... kau terlihat luar biasa memukau, Ratu-ku," puji Lucien tulus dengan suara bariton seraknya yang khas.Celina tersenyum geli, menaruh kedua tangannya di atas bahu suaminya. "Kau sudah memuji gaun ini tiga kali sejak tadi, Baginda. Kalau ter

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 159

    Raja Lucien menghentakkan pedang latihan ke atas lantai batu arena istana dengan bunyi dentingan nyaring, lalu menyeka keringat di keningnya menggunakan punggung tangan kanannya. Napasnya sedikit memburu setelah satu jam penuh melatih teknik tangkisan cepat bersama kepala pengawal kerajaan."Cukup untuk hari ini," titah Lucien dengan suara bariton tegasnya, melempar pedang tumpul itu ke dalam rak senjata.Pintu besar arena terbuka perlahan, menampilkan Ratu Celina yang melangkah masuk anggun dengan gaun musim semi berwarna lavendernya, membawa sehelai handuk kering dan botol air dingin di atas nampan perak."Kau menghabiskan pagi butamu di arena latihan lagi, Baginda Raja? Padahal para menteri belum datang ke ruang sidang," tegur Celina lembut, tersenyum kecil sambil menyodorkan handuk ke hadapan suaminya.Lucien segera menyambar handuk tersebut, menyeka lehernya, lalu menarik pinggang Celina mendekat ke dalam dekapannya tanpa ragu sedikit pun. Ia mengecup singkat kening istrinya. "Ju

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 5

    Keesokan paginya, kediaman Valois gempar. Bukan karena perilaku histeris sang Grand Duchess, melainkan karena kesibukannya yang luar biasa. Celina tidak mengenakan gaun sutra panjang yang menyapu lantai. Sebaliknya, ia memilih setelan jas wanita yang dimodifikasi dari penjahit istana—berwarna biru t

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 4

    Setelah insiden di lapangan latihan, desas-desus tentang "Kegilaan Baru" Grand Duchess menyebar seperti api di antara para pelayan dan ksatria. Namun, Celina tidak peduli. Baginya, status sosial di dunia ini hanyalah modal untuk mencapai satu tujuan: kemandirian finansial. Celina menghabiskan tiga

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 3

    Udara pagi di wilayah Valois terasa sangat menggigit. Embun tipis masih menyelimuti lapangan latihan yang terletak di bagian belakang kastil, menciptakan suasana yang remang dan mistis. Suara dentingan logam yang beradu memecah kesunyian pagi, diikuti oleh teriakan-teriakan komando dari para instruk

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 1

    Aroma amonia yang menyengat adalah hal pertama yang menyambut indra penciuman Celina. Kepalanya terasa seolah dihantam oleh palu godam, berdenyut mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Pandangannya kabur, hanya menangkap siluet langit-langit tinggi dengan lukisan fresco bergaya Renaisans y

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status