Menaikkan satu lututnya ke atas kasur, hati-hati menurunkan Vivienne. Benjamin hendak mengambil kotak p3k di kantornya, namun urung saat ujung lengan mantelnya ditarik pelan."Jangan pergi," pinta Vivienne menurunkan kaki, duduk di tepi ranjang.Benjamin mengambil tangan Vivienne, lalu bersimpuh di hadapannya. "Apa ada yang terasa sakit?" tanyanya mengusap punggung tangan wanita itu yang sangat dingin.Vivienne tidak menjawab. Dia menunduk, menggigit bibir bawahnya, tidak tahu bagaimana menjelaskan kegelisahannya.Bahwa setiap kali dia sendirian, suara aib dari dua tubuh yang bergesekan, membuat telinganya berdenging.Bahwa setiap kali dia memejamkan mata, dia bisa merasakan tangan pria itu menjamah tubuhnya, seolah-olah dia adalah barang yang baru dia beli."Aku..." Kalimatnya patah. Tenggorokannya menghimpit kata.Benjamin menunggu. Tidak mendesak Vivienne untuk segera berbicara. Hanya diam, menatap lekat sorot mata yang bergetar tak tentu arah.Sampai saat dia melihat cairan bening
Last Updated : 2026-05-18 Read more