Di malam yang sama, di hari yang sama, tapi di tempat yang berbeda, Ariyan juga sedang makan malam bersama Zelena dan Jeandra. “Make a wish dulu,” kata Zelena sebelum Ariyan meniup lilin.Ariyan menutup matanya beberapa detik, melafalkan doa dan harapan di dalam hati kemudian membuka kembali matanya.“Wish-nya apa tadi?” tanya Jeandra setelah Ariyan selesai meniup lilin di atas kue.“Rahasia, Pa. Kalau diucapin, nanti nggak terwujud,” jawab Ariyan sambil tersenyum getir.“Biar Mama tebak,” sela Zelena. “Pasti wish-nya pengen balikan sama Ziva.”Tawa Ariyan meluncur halus. “Nggak lah, Ma. Ziva mana mau,” lontarnya pesimis. Ariyan sadar diri, kesalahan dan kejahatan yang telah dilakukannya sangatlah fatal. Bahkan, meskipun ia sudah meminta maaf, ia tidak tahu apa Zivanya benar-benar sudah memaafkannya.“Siapa bilang? Memangnya sudah dicoba?” Jeandra ikut menimpali.“Belum, Pa.” Ariyan menjawab sembari menatap sisa asap tipis yang membumbung dari sumbu lilin yang baru saja dipadamkanny
Read more