แชร์

Part 185

ผู้เขียน: Zizara Geoveldy
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-23 15:51:13

Di malam yang sama, di hari yang sama, tapi di tempat yang berbeda, Ariyan juga sedang makan malam bersama Zelena dan Jeandra.

“Make a wish dulu,” kata Zelena sebelum Ariyan meniup lilin.

Ariyan menutup matanya beberapa detik, melafalkan doa dan harapan di dalam hati kemudian membuka kembali matanya.

“Wish-nya apa tadi?” tanya Jeandra setelah Ariyan selesai meniup lilin di atas kue.

​“Rahasia, Pa. Kalau diucapin, nanti nggak terwujud,” jawab Ariyan sambil tersenyum getir.

“Biar Mama tebak,” se
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (13)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
Ari...kamu terlambat satu langkah dari Kaivan... aku doa'in semoga Kaivan dan Ziva berjodoh...
goodnovel comment avatar
Persada Mulia
suka dg zelena dan jeandra sbg sosok ortu yg bijak sm anaknya, mdh2an tetap bersikap baik dan bijak ya mom n dad setelah tahu rahasia ari, aira dan bella
goodnovel comment avatar
Rani Chairani
kira2 kapan ya para ortu tau semua boroknya ari?
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 204

    Ariyan memalingkan wajah, seolah pertanyaan Zivanya sangat mengganggunya. Sementara itu, Zivanya terus mengunci wajah Ariyan dengan matanya.‘Nggak berani jawab, kan, dia,’ bisik Zivanya di dalam hati.Setelah beberapa detik, Ariyan kembali memutar wajahnya. ​"Arabella sudah mendapatkan seluruh porsinya, Ziva. Dan dia nggak pernah kekurangan apa pun dariku. Termasuk kasih sayang yang kamu sebut.”​Zivanya terkekeh menyembunyikan rasa perih yang mengiris hatinya mendengar pengakuan jujur itu. "Bagus kalau gitu. Jadi stop urusin Kaisar."​"Tapi Kaisar nggak punya porsi itu, Ziva. Dan itu karena kebodohanku," balas Ariyan cepat sebelum Zivanya sempat bangkit dari kursi. "Mencurahkan kasih sayang untuk Arabella nggak akan pernah bisa menghapus dosa bahwa aku sudah menelantarkan Kaisar selama tiga tahun. Mereka dua hal yang berbeda."​Zivanya meremas sendok di tangannya. "Nggak ada yang berbeda. Kamu cuma mau memuaskan rasa bersalahmu sendiri, kan? Kamu mau kelihatan seperti pahlawan seka

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 203

    Zivanya menatap dinding kamar dengan pandangan menerawang. Seluruh pikirannya tertuju pada petualangan off road tadi yang penuh dengan sensasi menegangkan.​Kejadian di dalam Land Rover tua itu terus berputar di kepalanya. Sentuhan tangan Ariyan yang melingkar protektif di tubuhnya, deru napas pria itu di pelipisnya, hingga detak jantungnya, semuanya terasa begitu nyata hingga membuat dada Zivanya berdesir aneh.​Ia menyentuh dadanya sendiri yang masih berdegup sedikit lebih cepat. Ada penolakan besar dalam dirinya untuk mengakui bahwa setelah lama berpisah, tubuh dan instingnya masih mengenali kehangatan yang sama dengan begitu familier.​’Harusnya tadi aku pegang besi aja yang kuat, nggak usah selemah itu di depan dia,’ gerutu Zivanya kesal pada diri sendiri. Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal demi mengusir bayangan Ariyan yang mendadak mendominasi isi kepalanya.Merasa perutnya keroncongan, Zivanya menjauhkan muka dari bantal dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia tidak mene

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 202

    Udara pagi yang menusuk tulang tidak menyurutkan antusias para karyawan yang sudah berkumpul di lapangan terbuka, tempat puluhan mobil Land Rover pariwisata berbodi kokoh berbaris menunggu. Aroma khas bensin, oli, dan tanah basah berbaur dengan kepulan asap knalpot dari gerungan parau mesin-mesin tua penggerak empat roda yang mulai dipanaskan.​Mita dengan sigap menuntun Zivanya menuju salah satu mobil Land Rover. Di dalam kabin belakang yang berkapasitas terbatas, Rike ternyata sudah duduk manis di sudut kanan. Ia langsung menyapa Zivanya.“Selamat pagi, Bu Ziva. Sesuai daftar dari panitia, berarti sisa satu kursi lagi ya, Bu. Kita tinggal nunggu Pak Haris.”“Oh, oke,” balas Zivanya.Zivanya kemudian mengambil posisi duduk di baris sebelah kiri, sementara Mita mengambil tempat di sebelah Rike. Kursi mereka saling berhadapan satu sama lain.“Gue deg-degan nih. It my first time, btw,” celetuk Mita sambil memegang dadanya.“Gue udah beberapa kali sih, tapi tetep aja dag dig dug,” kata R

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 201

    Zivanya meremas ponselnya, menoleh cepat dengan tatapan menghujam. "Kamu kelewatan," kecamnya separuh berbisik, menahan volume suaranya agar tidak memicu kasak-kusuk belasan kepala divisi di belakang mereka. "Nggak perlu bawa-bawa masa lalu di depan Kaivan."​"Aku cuma mengatakan kebenaran yang dia nggak tahu, Ziva," dalih Ariyan. "Dan sampai kapan pun, fakta itu nggak akan berubah."​Zivanya memilih membuang muka, kembali menatap deretan pohon di sepanjang tol yang bergerak mundur dengan cepat.Pukul dua belas lewat tiga puluh menit, setelah terjebak kemacetan akhir pekan yang melelahkan di jalur menanjak Ledeng, lima bus besar rombongan kantor akhirnya berhasil berbelok memasuki gerbang sebuah resort yang bertengger di kawasan dataran tinggi Lembang. Udara dingin pegunungan yang bersih langsung menyergap kabin begitu pintu bus dibuka. Kabut tipis sisa pagi hari masih menggantung malas di sela-sela jajaran pohon pinus yang mengelilingi kompleks resort mewah berdesain kayu modern ters

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 200

    Zivanya memilih untuk tidak berkata apa-apa.Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan. Ada banyak sebenarnya. Tapi berada di dekat Ariyan selain mengganggu suasana hatinya juga membuatnya kehilangan kata-kata. Maka ia kembali memusatkan perhatian pada aplikasi baca di handphonenya. Tapi entah mengapa, kalimat yang sama sudah ia baca empat kali dan tidak satu pun yang masuk ke kepalanya.Sedangkan di sebelahnya Ariyan duduk dengan tenang tanpa melakukan apa-apa. Hanya duduk diam.Empat puluh menit pertama berlalu seperti itu.Sampai bus berguncang ketika melewati sambungan jalan, dan tumbler kopi Zivanya yang tidak tertutup rapat oleng dari tempat dudukannya. Dengan refleks Ariyan menangkapnya. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikiran. Jari-jemarinya menutup di sekeliling tumbler tepat sebelum isinya tumpah. Ia menahannya sesaat sebelum menyerahkannya kembali dengan gerakan yang sama tenangnya dengan segala sesuatu yang ia lakukan."Tutupnya kurang rapat, Ziva.” Ariyan memberik

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 199

    Hari masih sedikit gelap ketika Zivanya menggeret koper kecilnya ke ruang tengah. Hari ini ia akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti acara outing tahunan kantor yang tahun lalu berhasil ia hindari dengan alasan Kaisar demam. Alasan yang tahun ini tidak bisa ia pakai lagi karena Kaisar, dengan tubuhnya yang sekarang jauh lebih tinggi sudah berlari-larian sehat sejak subuh.​Dan sekarang, anak laki-laki itu sedang berdiri di depannya.“Ibu jadi pelgi ya?” “Jadi, Sayang.”​"Kai mau ikut."​Zivanya menatap jagoan kecilnya dan berjongkok di hadapannya. "Kai, Ibu, kan sudah bilang–”​"Kai mau ikuuut." Kaisar mengucapkannya lagi dengan penekanan yang berbeda, seolah versi kedua dari kalimat yang sama secara ajaib akan mengubah keputusan ibunya.​Zivanya menghela napas pelan. Ia mengusap rambut Kaisar yang awut-awutan dan menyisir dengan jari-jemarinya. "Ini acara kantor Ibu, Sayang. Nggak bisa bawa anak-anak."​"Kenapa?"​"Karena memang aturannya begitu."​"Atulannya siapa?"​Astaga, ken

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 153

    Zivanya tentu saja terkejut mendengar ucapan Seruni. Ia tidak ingin melibatkan mertuanya. Apalagi ia tahu Ariyan tidak akan peduli. “Mi, nggak usah. Jangan telepon Mama Zelena.” Zivanya mencoba melarang. “Jangan telepon Mama Zelena? Ziva, kamu ini bicara apa sih?" Seruni menatap putrinya dengan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 151

    Zivanya tentu terkejut mendengar jawaban Kaivan. Tapi ia sangat menghargai kejujuran lelaki itu. Meski demikian, ada perasaan tidak nyaman di hatinya. Haruskah ia kehilangan laki-laki yang dekat dengannya karena orang yang berasal dari lingkaran mantan suaminya?Zivanya buru-buru menepis pikiran i

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 150

    Kaivan yang terkejut dan tidak sempat menghindar dari ciuman perempuan itu langsung berdiri tegak. Ia sangat tidak suka dan tidak nyaman, apalagi ia sedang mendekati Zivanya. Tanpa sadar, Kaivan mengusapkan telapak tangannya ke pipi, menghapus bekas ciuman tersebut. Ia sempat melirik Zivanya guna m

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 149

    Agenda hari Minggu ini sepenuhnya milik Kaisar. Anak itu bahkan sudah heboh sejak pagi. Ia membangunkan Zivanya dengan begitu bersemangat. ​Kini, mereka berada di area outdoor infinity pool yang terletak di lantai lima hotel. Air kolam yang jernih tampak berkilau diterpa sinar matahari pagi yang h

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status