Compartir

Part 183

last update Fecha de publicación: 2026-06-22 21:31:14

“Selamat ulang tahun, Ibu. Kai sayang Ibu. Mmuaah… mmuaah…”

Zivanya tersenyum haru melihat wajah anaknya di layar handphone yang terlihat sangat menggemaskan saat meruncingkan bibir ke arahnya, seolah-olah sedang menciumnya.

“Makasih sayangnya Ibu. Ibu juga sayang sama Kai. Baik-baik ya di sana. Kai udah makan malam belum?"

​"Udah. Tadi Kai makan setik. Telus tadi siang Kai ketemu Mickey Mouse besaaal sekaliiiii!" ceritanya menggebu-gebu dengan kedua tangan yang bergerak heboh, menceritakan pet
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (14)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
terima..terima..ya Ziva..masa orang sebaik dan seperfect Kaivan kamu tolak..
goodnovel comment avatar
celine
ikuti alur yg lagi naik turun ini
goodnovel comment avatar
ars
Tapi keungkap segala gebusukan ari dan aira SOON ya kaka zi, biar seruni diem ga banyak bacot dan gajadi penghambat hubungan ziva sm kai..... Say yes ziva tunggu apalg dlamar pengacara gantenggg
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 201

    Zivanya meremas ponselnya, menoleh cepat dengan tatapan menghujam. "Kamu kelewatan," kecamnya separuh berbisik, menahan volume suaranya agar tidak memicu kasak-kusuk belasan kepala divisi di belakang mereka. "Nggak perlu bawa-bawa masa lalu di depan Kaivan."​"Aku cuma mengatakan kebenaran yang dia nggak tahu, Ziva," dalih Ariyan. "Dan sampai kapan pun, fakta itu nggak akan berubah."​Zivanya memilih membuang muka, kembali menatap deretan pohon di sepanjang tol yang bergerak mundur dengan cepat.Pukul dua belas lewat tiga puluh menit, setelah terjebak kemacetan akhir pekan yang melelahkan di jalur menanjak Ledeng, lima bus besar rombongan kantor akhirnya berhasil berbelok memasuki gerbang sebuah resort yang bertengger di kawasan dataran tinggi Lembang. Udara dingin pegunungan yang bersih langsung menyergap kabin begitu pintu bus dibuka. Kabut tipis sisa pagi hari masih menggantung malas di sela-sela jajaran pohon pinus yang mengelilingi kompleks resort mewah berdesain kayu modern ters

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 200

    Zivanya memilih untuk tidak berkata apa-apa.Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan. Ada banyak sebenarnya. Tapi berada di dekat Ariyan selain mengganggu suasana hatinya juga membuatnya kehilangan kata-kata. Maka ia kembali memusatkan perhatian pada aplikasi baca di handphonenya. Tapi entah mengapa, kalimat yang sama sudah ia baca empat kali dan tidak satu pun yang masuk ke kepalanya.Sedangkan di sebelahnya Ariyan duduk dengan tenang tanpa melakukan apa-apa. Hanya duduk diam.Empat puluh menit pertama berlalu seperti itu.Sampai bus berguncang ketika melewati sambungan jalan, dan tumbler kopi Zivanya yang tidak tertutup rapat oleng dari tempat dudukannya. Dengan refleks Ariyan menangkapnya. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikiran. Jari-jemarinya menutup di sekeliling tumbler tepat sebelum isinya tumpah. Ia menahannya sesaat sebelum menyerahkannya kembali dengan gerakan yang sama tenangnya dengan segala sesuatu yang ia lakukan."Tutupnya kurang rapat, Ziva.” Ariyan memberik

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 199

    Hari masih sedikit gelap ketika Zivanya menggeret koper kecilnya ke ruang tengah. Hari ini ia akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti acara outing tahunan kantor yang tahun lalu berhasil ia hindari dengan alasan Kaisar demam. Alasan yang tahun ini tidak bisa ia pakai lagi karena Kaisar, dengan tubuhnya yang sekarang jauh lebih tinggi sudah berlari-larian sehat sejak subuh.​Dan sekarang, anak laki-laki itu sedang berdiri di depannya.“Ibu jadi pelgi ya?” “Jadi, Sayang.”​"Kai mau ikut."​Zivanya menatap jagoan kecilnya dan berjongkok di hadapannya. "Kai, Ibu, kan sudah bilang–”​"Kai mau ikuuut." Kaisar mengucapkannya lagi dengan penekanan yang berbeda, seolah versi kedua dari kalimat yang sama secara ajaib akan mengubah keputusan ibunya.​Zivanya menghela napas pelan. Ia mengusap rambut Kaisar yang awut-awutan dan menyisir dengan jari-jemarinya. "Ini acara kantor Ibu, Sayang. Nggak bisa bawa anak-anak."​"Kenapa?"​"Karena memang aturannya begitu."​"Atulannya siapa?"​Astaga, ken

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 198

    “Jadi kapan kita beli furniture?” “Hmm… kayaknya kapan-kapan aja deh, Kai.” “Kok kapan-kapan? Kamu terlalu sibuk atau…” Kaivan menggantung kalimatnya, menatap Zivanya lekat-lekat melalui video call malam itu. ​“Aku cuma ngerasa kita nggak perlu buru-buru. Lagian rumah itu juga nggak ditempati setiap hari.” Kaivan terdiam. Dalam heningnya ia mencoba mengartikan makna perkataan Zivanya. Apa ​Zivanya menyerah karena tertekan maminya? Dan ini adalah cara halus untuk menyudahi hubungan mereka? “Memang nggak ditempati setiap hari, tapi seenggaknya nggak dibiarin kosong. Minimal ada kursi sama meja.” “Ya. Aku setuju. Tapi rasanya untuk beberapa hari ini aku belum bisa fokus ke sana. Kalau kamu mau beli duluan, beli aja. Apa pun pilihan kamu aku pasti suka,” lanjut Zivanya halus. Ia mengembuskan napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipisnya sendiri. Raut lelahnya terlihat sangat jelas di layar. ​“Capek banget ya? Banyak kerjaan di kantor?” ​Di dalam hati

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 197

    “Sekarang tolong ceritain ke Mama gimana kejadian sebenarnya?” pinta Andara setelah Seruni pergi.“Apanya yang harus aku ceritain, Ma? Kan, udah jelas.”“Belum. Mama nggak tahu hubungan kamu sama Zivanya udah sejauh ini. Bahkan kalau Tante Seruni nggak datang menemui Mama, Mama juga nggak tahu kalau Zivanya udah cerai sama Ariyan.”​​Mendengar kalimat mamanya, Kaivan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengaku. "Ziva cerai udah hampir satu tahun, Ma.”“Hampir satu tahun?”Kaivan mengiakan dengan anggukan. “Sepuluh bulan lebih tepatnya. Dan yaa… aku sama dia memang lagi menjalin hubungan.”​"Mama nggak melarang kalau memang kamu suka sama dia, Kai," ujar Andara dengan nada suara yang tenang dan meneduhkan. "Mama nggak masalah kalau memang dia yang jadi pilihan kamu. Tapi kamu juga nggak boleh tutup mata terhadap realita yang ada di depan kamu sekarang."​Kaivan bergeming, mendengarkan dengan saksama setiap untaian kata yang diucapkan mamanya.​"Orang tuanya nggak setuju. Bahkan sam

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 196

    Kaivan baru saja melepas kancing teratas kemejanya begitu melangkah masuk ke dalam apartemennya yang sepi. Tubuhnya terasa lelah setelah sisa hari yang panjang. Namun, baru saja ia mengistirahatkan punggungnya di sofa, ponselnya berbunyi. Nama mamanya tertera di layar. Kaivan langsung menjawab. ​"Kai, kamu di mana? Bisa pulang ke rumah sekarang? Mama tunggu, ada hal penting yang harus kita bicarakan," ujar Andara di seberang telepon dengan nada suara yang terdengar tidak biasa. ​"Ada apa, Ma? Apa nggak bisa lewat telepon aja?" tanya Kaivan sembari memijat pelipisnya. "Aku agak capek, Ma. Kalau nggak mendesak, besok pagi aku mampir ke rumah.” ​"Nggak bisa, Kai. Ini penting dan harus dibicarakan sekarang. Langsung. Mama tunggu.” ​Kaivan menatap layar ponselnya yang menggelap dengan helaan napas panjang. Kepatuhannya yang tinggi pada sang mama membuat pria itu tidak memiliki pilihan lain. Dengan sisa tenaga yang ada, ia kembali menyambar kunci mobil, meninggalkan kenyamanan apartem

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 102

    Waktu menunjukkan pukul delapan malam saat Zivanya duduk memeriksa dokumen yang dikirim Kaivan dan telah ia cetak. Semua persis seperti yang Zivanya inginkan. Ia hanya tinggal menunggu tanda tangan Ariyan lalu mengeksekusinya.​Sementara itu, di seberang ruangan, Ariyan duduk sendiri dengan pikiria

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 100

    "Ariyan? Zivanya?" ​Hesti akhirnya menampakkan diri, melangkah keluar dari persembunyiannya dengan wajah yang tampak syok. ​Zivanya dan Ariyan seketika menoleh. Jantung Ariyan rasanya mencelos sampai ke kaki saat melihat siapa yang datang mendekati mereka. Wajah pria itu yang semula merah karena

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 99

    Hari-hari Zivanya lebih banyak dilalui bersama Kaisar tanpa keterlibatan Ariyan. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Tapi entah mengapa pagi ini Ariyan ikut bergabung bersama mereka di meja makan.Zivanya duduk dengan anggun. Sesekali menyesap teh hangatnya sembari menikmati menu sarapan seh

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 98

    Permintaan Kaisar begitu sederhana. Hanya ingin tidur dengan kedua orang tuanya di saat badai menakutkan di luar sana sedang berkecamuk. Tetapi anak itu sampai harus berdiri gemetar, meremas guling dan meminta izin seolah-olah sedang meminta sesuatu yang mustahil untuk dikabulkan. Di usianya yang b

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status