“Ada apa, Ari? Kondisi kamu gimana? Jangan bikin Mama takut,” suara Zelena meningkat naik merespons Ariyan yang tiba-tiba serius. Ariyan tahu setelah ini mamanya syok berat dan menangis sedih. Tapi ini sudah final. “Ma, aku sakit,” aku Ariyan akhirnya. Kalimat itu meluncur lambat dan berat. “Sakit apa? Kamu jangan bercanda, Ariyan. Kamu di sana kerja, kan? Jangan bikin Mama takut,” suara Zelena mulai bergetar, menolak untuk memercayai apa yang baru saja didengarnya. “Aku nggak bercanda, Ma. Ada tumor di kepalaku. Satu tahun ini aku berobat di Amsterdam. Aku nggak kerja di sini. Aku bohong sama Mama dan Papa. Maaf, Ma.” Tangis Zelena pecah seketika mendengar pengakuan Ariyan. Firasat seorang ibu tidak pernah salah. Zelena merasa gelisah belakangan ini dan selalu teringat Ariyan. Tapi ia mengabaikannya dan menganggap bahwa ini semua karena dirinya terlalu rindu pada anaknya itu. “Ya Tuhan, Ari… Kenapa kamu baru bilang sekarang? Satu tahun, Ari! Kamu menanggung itu sendirian d
Read more