“Ziva kenapa? Lo apain dia?” Kaivan langsung menyerbu dengan pertanyaan. Ia siap merebut Zivanya dari dekapan Ariyan.“Dia kena serangan panik karena lift mati.”"Kita bawa ke rumah sakit,” usul Kaivan mencoba menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Zivanya, tapi Ariyan tidak sudi memberikan."Nggak usah ke rumah sakit, dia cuma butuh istirahat,” kata Ariyan tidak setuju. "Kita bawa dia pulang ke rumahnya.”Kaivan sempat ragu, namun ia akhirnya mengalah. "Gue yang nyetir. Masuk ke mobil gue.”Saat Kaivan menawarkan diri mengangkat Zivanya berdua, Ariyan langsung menolak mentah-mentah. Jangankan Kaivan, bahkan sekuriti yang ingin membantu mengangkat Zivanya juga ditolak oleh Ariyan. Sepanjang perjalanan membelah malam menuju rumah Zivanya, ketegangan di dalam mobil begitu terasa. Kaivan menyetir, sementara Ariyan duduk di kursi belakang, memangku kepala Zivanya yang tak sadarkan diri. Kaivan sesekali melirik dari spion tengah, menahan gejolak cemburu melihat bagaimana Ariyan membelai
Read more