Seruni memandangi handphonenya, membiarkan benda itu terus berbunyi. Sudah lebih enam bulan ia dan Zelena tidak berkomunikasi, lalu kini mantan besannya itu menghubungi di waktu yang tidak disangka-sangka. “Siapa, Mi?” tanya Syabila yang sedang makan di sebelahnya. “Tante Zelena.” Mata gadis bungsunya melebar mendengar itu. “Kok tiba-tiba? Udah lama, kan, Tante Zelena nggak nelepon Mami?” Seruni mengiakan. “Dijawab aja, Mi, siapa tahu ada yang penting.” Atas saran Syabila, Seruni melipir mencari tempat sepi. Ia masuk ke dalam rumah. Sekilas ia sempat melihat Zivanya yang sedang makan berdua dengan Kaivan. Setelah masuk ke dalam kamar, Seruni memastikan pintu terkunci. Dihelanya napas, mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedikit berpacu, lalu menekan ikon telepon berwarna hijau. “Ya ampun, Zel! Kamu ke mana aja nggak ada kabar?” Seruni tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Zelena tertawa kecil. "Halo, Run. Kamu apa kabar?” “Kabarku baik. Kabarmu gimana,
Read more