Ariyan melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Ia bangkit, melangkah mondar-mandir di kamar yang terasa semakin sempit. Kepalanya berdenyut, bukan karena luka fisik, melainkan karena rasa frustrasi yang mendidih. Zivanya.Nama itu terasa seperti pintu yang terkunci rapat. Ia memegang kuncinya, tapi tidak tahu di mana lubang kuncinya. Mengapa Zivanya menolak memberikan alamat? Apakah mereka benar-benar sedekat itu, atau Zivanya sedang menyembunyikan sesuatu tentang masa lalunya yang ia tidak tahu?Keresahan yang dirasakannya membawa Ariyan keluar kamar. Ia mencari sosok yang paling bisa ia percaya di rumah ini. Ia menemukan Zelena, sedang berada di tepi kolam renang, melamun di sana."Ma," panggil Ariyan. Zelena menoleh, matanya beralih dari birunya air pada sang putra. "Ya? Obatnya udah diminum?"Ariyan mengabaikan pertanyaan soal obat. “Tadi aku nelepon Zivanya, Ma. Dia bilang kami teman dekat, tapi dia menolak waktu aku tanya alamat rumahnya.”Zelena jelas kaget mendengarnya. Ar
Read more