Seruni benar-benar menghubungi Zelena saat itu juga. Panggilan langsung tersambung. Tetapi ia harus menunggu cukup lama sampai Zelena menjawabnya.“Zel, tolongin aku, Zel.” Seruni langsung menangis bahkan sebelum Zelena mengucapkan halo. Tentu saja Zelena terkejut mendengarnya. Seharusnya saat ini Seruni sedang sibuk dan berbahagia menyambut pernikahan putrinya.“Kenapa, Runi? Ada masalah apa?”"Papinya Ziva, Zel. Papinya Ziva,” jawab Seruni terisak. “Kenapa papinya Ziva?” Zelena ikut panik mendengarnya.“Papinya Ziva jantungnya kumat. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk!" ratap Seruni histeris, membuat Syabila yang berada di dekatnya hanya bisa menghela napas, tidak sanggup lagi menyaksikan tingkah sang ibu."Astaga, Pak Abi. Terus sekarang gimana keadaannya, Run? Dirawat di rumah sakit mana? Terus Ziva gimana? Ya Tuhan, Ziva...""Ini gara-gara Kaivan bajingan itu. Dia selingkuh! Pernikahan Ziva tiga hari lagi batal t
Read more