Jantung Zivanya berdetak jauh lebih kencang. Seharusnya Ariyan bisa langsung menciumnya, tetapi lelaki itu meminta izin, memberinya pilihan untuk menolak jika memang Zivanya tidak menginginkannya.Dan itulah yang membuat Zivanya semakin sulit mengatur napas.“Ariyan…,” bisikan lembut akhirnya keluar dari bibir Zivanya bersama tangannya yang meremas lembut bahu lelaki itu.Ariyan tidak perlu jawaban lebih lanjut. Zivanya yang melafalkan namanya dan remasan halus di bahunya sudah cukup sebagai jawaban bahwa perempuan itu mengizinkan untuk menyentuhnya.Bibir Zivanya yang setengah terbuka di bawahnya membuat Ariyan hampir gila oleh rindu yang memuncak. Mereka memang bertemu hampir setiap hari. Tetapi momen ini, keintiman ini, sudah bertahun-tahun tidak terjadi.Mengikis habis sisa jarak di antara mereka, Ariyan akhirnya menyatukan bibirnya dengan bibir Zivanya.Bibir Zivanya masih semanis dan selembut dulu dalam pagutan bibir Ariyan yang hangat, lembut, dalam, dan perlahan, seolah menyer
Read more