Dengan langkah gontai dan tubuh lunglai, Ariyan melangkah masuk ke dalam rumah. Wajahnya terlihat sedikit pucat, matanya merah dengan sorot kosong bagai raga tanpa jiwa.Saat melihat kedatangan Ariyan, Zelena langsung berdiri.“Kamu dari mana, Ari? Kenapa mukamu pucat kayak gini?”Ariyan tidak menjawab. Ia hanya menatap ibunya beberapa detik, sebelum akhirnya lelaki dengan tinggi 186 cm itu luruh ke lantai. Ia memeluk kaki Zelena, menyandarkan kepalanya ke sana."Mama…," bisik Ariyan lirih sambil menahan tangis. Ariyan merasa nasibnya begitu malang. Sudahlah sakit, ia juga harus kehilangan perempuan yang saat ini benar-benar ia inginkan.Zelena mengusap lembut kepala Ariyan dan bertanya, "Kenapa, Ari? Kepalamu sakit lagi?”“Hatiku, Ma, sakit banget," adu Ariyan dengan perasaan sedih. "Tadi aku ikut Ziva sama Kaivan fiting baju pengantin. Ziva cantik banget, Ma. Bajunya, orangnya, semuanya. Tapi yang bikin aku sakit adalah yang jadi pengantin prianya bukan aku, tapi orang lain.”Zelena
Read more