Tiga hari sudah Kaisar menginap di rumah Ariyan. Zivanya sengaja membiarkan agar anak itu puas dan ia juga memiliki waktu untuk dirinya sendiri.“Ibu, Kai heran deh. Kenapa Papa minta maaf tiap hari sama Kai?” beritahu Kaisar dengan suara berbisik melalui telepon sepuluh menit yang lalu. “Kata Papa, Papa banyak salah sama Kai dan Ibu. Tapi Kai, kan, udah maafin Papa. Masa Papa minta maaf terus.”Sulit bagi Zivanya menjelaskan pada putranya bahwa ingatan papa anak itu terhenti di Amsterdam.Zivanya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang ke arah udara kosong di ruang tengahnya. Ia mencari kata yang paling pas agar anak sekecil Kaisar tidak kebingungan atau ketakutan mendengar kondisi ayahnya."Kai," panggil Zivanya pelan dan lembut. "Kai tahu, kan, kalau Papa lagi agak sakit?"“Tahu, Bu.”"Nah, sakitnya Papa itu bikin pikiran Papa seperti papan tulis magnetik punya Kai," jelas Zivanya perlahan. "Setiap malam pas Papa tidur, papan tulis di kepala Papa terhapus bersih secara
Read more